Terkini

Warga Renon Pantang Buat Ogoh-ogoh


Laporan I Made Sujaya
 
Di kala hampir seluruh banjar di Bali kini sibuk membuat ogoh-ogoh, banjar-banjar di Desa Pakraman Renon, Denpasar malah sepi. Memang, warga di desa ini memang berpantang membuat ogoh-ogoh. Konon, saban kali dibuat, ogoh-ogoh di desa ini hidup. 

Menurut cerita yang berkembang di kalangan warga setempat, setiap kali membuat ogoh-ogoh, selalu saja ogoh-ogoh yang dibuat hidup. Karenanya, warga Renon menganggap membuat atau pun mengarak ogoh-ogoh sebagai suatu hal yang bisa menimbulkan bencana bagi daerahnya.

Saat pertama kali ogoh-ogoh diperkenalkan di Bali sebagai pelengkap malam pengerupukan menjelang Nyepi, warga Renon juga ikut membuat ogoh-ogoh. Saat itu, Banjar Tengah membuat ogoh-ogoh berwujud babi.

Namun, beberapa jam sebelum pengarakan ogoh-ogoh dimulai yakni saat Ida Bhatara masineb di Bale Agung setelah nyejer selama tiga hari sejak pelaksanaan melis, tiba-tiba saja penari Baris Cina yang merupakan tarian sakral warga Renon kerauhan. Pada saat yang sama muncul kegaduhan di banjar-banjar yang membuat ogoh-ogoh.

Banyak warga melihat wujud ogoh-ogoh itu hidup. Seperti wujud babi hidup menjadi babi dan wujud ular hidup menjadi ular sehingga membuat para pengaraknya takut.

Saat itulah muncul pamuwus (pawisik) dari Ida Batara melalui para penari Baris Cina yang kerauhan bahwa Renon tidak boleh membuat ogoh-ogoh. Ida Batara tidak berkenan di wilayah Desa Renon terdapat boneka raksasa itu.

Meski begitu, beberapa tahun yang lalu ada sekelompok warga Renon yang mencoba-coba membuat ogoh-ogoh. Pembuatan ogoh-ogoh ini dilakukan secara berkelompok di luar organisasi banjar atau sekaa teruna (ST). Tak dinyana, ogoh-ogoh itu juga hidup.

Karenanya, ogoh-ogoh itu tidak jadi diarak berkeliling desa tetapi langsung dibakar. Mereka takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika ogoh-ogoh itu tetap diarak.

Kejadian terakhir itu makin menguatkan keyakinan warga Renon untuk tidak lagi mencoba-coba membuat ogoh-ogoh, meskipun di desa-desa lain warganya menikmati kemeriahan dan megehan ogoh-ogoh. Bila pun punya keinginan untuk menyaksikan ogoh-ogoh, warga Renon akan datang ke desa lain untuk sekadar menonton.

Pantangan membuat ogoh-ogoh itu sendiri tidak tercantum dalam awig-awig tertulis Desa Pakraman Renon. Pantangan ini hanya berupa aturan tidak tertulis yang sudah dipahami dan dimaklumi warganya. Tak jarang aturan tidak tertulis jauh lebih kuat meresap di benak warga tinimbang aturan tertulis, memang. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.