Terkini

Hormat Bali Pada Sang Waktu



Teks: I Made Sujaya

TRADISI Bali memberi pekanan yang teramat kepada masalah waktu atau momentu, selain tentu kepada ruang. Segala gerak laku majusia Bali senantiasa memerhitungkan unsur kala.


Manusia Bali meyakini waktu (dan juga ruang) memberi pengaruh yang tidak kecil bagi semesta alam, terutama manusia. Bahkan, pada titik tertentu, waktu dianggap menjadi faktor yang amat menentukan.

Karena itu, manusia Bali sejatinya diingatkan untuk senantiasa menghormati sang waktu. Tradisi padewasan, baik-buruk waktu, menunjukkan betapa pentingnya makna waktu bagi orang Bali. Bukan saja dalam urusan ritual, pun dalam banyak aktivitas keseharian pun manusia Bali mempertimbangkan aspek waktu ini.


Selain menyelaraskan aktivitasnya dengan waktu, manusia Bali juga menandai waktu itu dengan ritual. Setiap detik dan setiap detak diberi makna, setiap detik danm setiap detak dijaga dengan upacara.

Manusia Bali mengenal ritus yang senantiasa berputar sepanjang waktu. Tiap hari ada saja hari suci. Dalam rentang 15 hari sekali ada kajeng kliwon, setiap tahun sekali digelar tawur kesanga, 10 tahun sekali ada panca wali krama, 100 tahun sekali ada eka dasa rudra bahkan ada ritus khusus 1000 tahun sekali.

Bukan hanya itu, perjalanan nafas manusia Bali juga ditandai dengan ritual mulai dari saat masih di dalam kandungan, ketika lahir, 12 hari, 42 hari, tiga bulan, enam bulan (otonan), meningkat remaja (menek bajang), menginjak dewasa (mepandes atau meratakan gigi), menikah, meninggal hingga menstanakan di alam dewata. Ritual yang sambung sinambung ini tentu dimaksudkan untuk menciptakan manusia Bali yang berkualitas, menyelami alam kemanusiaannya yang paling dasar.

Esensi dari semua itu tetaplah satu, hormat pada sang waktu. Karena yang paling berkuasa di kehidupan ini adalah waktu. Semua makhluk tak bisa menghindari dari cengkeraman sang waktu. Tak ada yang mampu melawan kuasa sang waktu. Semua tunduk pada sang waktu. Apabila waktu berhasrat, maka pasti akan terjadi.

Kisah simbolik Sang Kumara dikejar-kejar Sang Kala dalam mitologi tentang bayuh oton anak yang lahir saat wuku Wayang sejatinya merupakan kisah simbolik betapa tak ada yang bisa menghindari kekuasaan waktu (Sang Kala). Agar tak disantap oleh waktu (Sang Kala), jalannya memang hanya satu, bersembunyi dalam irama kehidupan yang disimbolikkan dengan irama gender sang dalang. Di gender sang dalang itulah Sang Kumara disembunyikan sang dalang sehingga Sang Kala tak menemukannya.

Renungan mengenai kuasa waktu ini menarik dibaca kembali ketika milyaran umat manusia kini gersorak gemibra merayakan pergantian tahun 2007 menuju tahun baru 2008. Bahwa hakikat pergantian tahun bukan semata soal melepas tahun lama dan menyambut tahun baru. Namun, bagimana kita memaknai kuasa waktu dan menghormatinya dengan laku diri senyata-nyatanya yang bermanfaat bagi kehidupan. Bukankah kita sendiri juga mengakui waktu itu sesuatu yang sangat berharga sedetik sekali pun. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.