Terkini

Jalan Satya Mahaksatria I Gusti Made Agung

Mengenang 103 Tahun Puputan Badung

PUPUTAN
Badung memberi pelajaran berharga tentang bagaimana semestinya seorang raja menjalankan tanggung jawab bagi negara dan rakyat yang dipimpinnya. Sikap tegas dan bela pati Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, sang pemimpin perang Puputan Badung menunjukkan jelas bahwa tugas utama seorang pemimpin, seorang penguasa adalah satya, membela kepatutan negara dan rakyatnya. Sesuatu yang sangat sulit didapatkan dari para pemimpin kini.


Sikap satya kepada kebenaran dan rakyatnya itu terlihat jelas jika mengikuti peristiwa-peristiwa yang mendahului perang Puputan Badung. Diawali dengan peristiwa terdamparnya kapal “Sri Komala” di Pantai Sanur, pada tanggal 27 Mei 1904. Pemilik kapal, Kwee Tik Tjiang, seorang Cina dari Banjarmasin melaporkan kepada Raja Badung bahwa penduduk Sanur telah mencuri barang-barangnya dalam kapal.
Padahal, rakyat Sanurlah yang membantu Kwee Tik Tjiang menyelamatkan barang-barangnya saat kapalnya terdampar. Melalui punggawa Ida Bagus Ngurah, rakyat Sanur sendiri kemudian menegaskan bahwa mereka tidak ada mencuri barang-barang milik Kwee Tik Tjiang. Bahkan, rakyat Sanur mengucapkan sumpah untuk menguatkan kebenaran dari ucapan mereka.
Karena meyakini rakyat Sanur benar, Raja I Gusti Ngurah Made Agung menolak tuntutan untuk membayar ganti rugi. Atas penolakan ini, Kwee Tik Tjiang melanjutkan laporannya ke Residen Hindia Belanda di Singaraja karena kapal miliknya berbendera Belanda. Dari sinilah kemudian Belanda turut campur memaksa Raja Badung membayar ganti rugi. Raja Badung tetap teguh dengan sikapnya semula.
Raja Klungkung sempat menyarankan kepada Raja Badung untuk memenuhi tuntutan Belanda. Sementara Raja Tabanan yang memang menjadi sekutu utama Badung, mendukung langkah I Gusti Ngurah Made Agung. Raja Badung tetap tak bisa digoyahkan. Keputusan tak berubah, Belanda tak berhak meminta ganti rugi. Malah, Raja Badung balik menuntut ganti rugi Belanda karena tindakan-tindakan Belanda di awal tahun 1906 merugikan perekonomian Badung terutama dengan blokade ekonominya.
Ida Bagus Sidemen dkk., dalam buku Sejarah Badung 1779-1906 menulis, keyakinan akan kebenaran itulah yang menjadi sebab mengapa Raja Badung pantang mundur. Sumber-sumber Belanda sendiri mencatat, Badung memiliki cukup uang untuk membayar ganti rugi. Namun, ini sungguh bukan semata-mata masalah uang, tetapi masalah kedaulatan kerajaan Badung. I Gusti Rai Mirsha dalam buku Makna dan Hakikat Puputan secara lebih lugas menyatakan Raja Badung tidak sudi dijajah.
Yang penting untuk dimaknai, kesadaran I Gusti Ngurah Made Agung bahwa sebagai raja, sebagai pemimpin, dialah yang mesti berada di garda depan menghadapi musuh. Karenanya, meskipun diwarnai dengan kejadian sejumlah desa di wilayah kekuasaannya yang menyatakan menyerah kepada Belanda termasuk pengkhianatan dari beberapa pejabat kerajaan, I Gusti Ngurah Made Agung tetap tak tergoyahkan.
Pada titik ini, sikap I Gusti Ngurah Made Agung dapat dilihat sebagai upaya menegakkan moral dan harga diri sebagai bangsa berdaulat.
Namun, sejarawan Unud, Drs. I Nyoman Wijaya, M.Hum., memiliki pandangan berbeda. Menurut dia, motivasi utama I Gusti Ngurah Made Agung memilih jalan tak mau berkompromi hingga akhirnya berpuncak pada puputan sesungguhnya adalah cita-cita besarnya untuk mengembalikan kejayaan Badung di masa lalu.
Wijaya kemudian menyodorkan Geguritan Nengah Jimbaran karya I Gusti Ngurah Made Agung sebagai sebuah pertanda. Cerita dalam geguritan yang ditulis pada tahun 1903 itu mengambil latar ketika Kerajaan Badung diperintah Ratu Ngurah jambe dari Puri Denpasar (Ksatria), seorang keturunan Majapahit, dari dinasti Sri Arya Damar yang masih sedarah dengan I Gusti Ngurah Made Agung.
Saat geguritan itu ditulis, yang memegang hegemoni kekuasaan di Badung adalah dari Puri Kesiman. Dengan mengambil setting cerita pada masa Ngurah Jambe, I Gusti Ngurah Made Agung ingin menunjukkan meskipun saat itu raja dari Puri Denpasar tidak memegang hegemoni kekuasaan atas Badung, tetapi leluhurnya yakni Ngurah Jambe penah memerintah Badung yang masih keturunan Majapahit dan ada pertalian darah dengan raja yang berkuasa di Badung saat itu.
Pada akhirnya, tatkala raja dari Puri Kesiman meninggal dunia dan hegemoni kekuasaan Badung dipegangnya, cita-cita besar itu pun diwujudkan I Gusti Ngurah Made Agung. Ketidakmauan berkompromi dengan Belanda merupakan bentuk sikap konsistennya untuk memenuhi cita-citanya mewujudkan kejayaan Badung. Rakyat diharapkan akan setia kepada langkah-langkahnya seperti kesetiaan I Nengah Jimbaran melaksanakan perintah raja. * Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.