Terkini

Menghidupkan kembali ke Tradisi Mendongeng



MESKIPUN banyak yang ragu tradisi mendongeng bisa ditumbuhkan kembali di tengah-tengah keseharian masyarakat Bali, ternyata muncul gejala hidupnya kembali tradisi tersebut dalam sejumlah keluarga muda di Kota Denpasar. Meski tak seintensif zaman dulu, kebiasaan anak berbekal cerita sebelum tidur kembali mengemuka. Buku-buku dongeng khusus untuk anak-anak mulai dilirik.

---------------------------
PUTU Diatmika (32) kini memilikia tugas baru saban malam menjelang putranya tidur: mendongeng. Sejak setahun terakhir, putranya yang baru berusia 4,5 tahun itu keranjingan mendengar cerita dongeng dari Diatmika. Hampir setiap sore usai makan dia menodong ayahnya untuk mendongeng.
"Saya sampai kewalahan. Semua cerita dongeng yang saya miliki sudah habis saya ceritain kepadanya," tutur lelaki asal Klungkung yang kini tinggal di salah satu perumahan di Kota Denpasar.
Diatmika mengaku biasa mendongeng untuk anaknya sejak berumur dua tahun. Saat masih berumur setahun, Diatmika melihat anaknya berperilaku aneh. Bila ada orang ngobrol di dekatnya, putranya itu akan diam seolah menyimak obrolan orang. Setelah mulai belajar bicara, Diatmika pun mencoba mendongeng dan mendapat sambutan hangat.
Beruntung Diatmika punya pengalaman didongengi oleh kakek-neneknya ketika masih kecil dulu. Dongeng "I Siap Selem", "Bawang-Kesuna", "Ketimun Mas", "Tuwung Kuning", "Pan Balang Tamak" dan dongeng-dongeng yang lain masih melekat di benaknya.
"Namun, anak-anak sekarang sangat kritis. Kalau alur cerita kita terasa janggal dia bisa langsung mendebat," ujarnya.
Selain itu, imbuh Diatmika, anak-anak zaman sekarang juga membutuhkan cerita dongeng yang sesuai dengan zamannya. Mereka tak lagi mau dengan dongeng-dongeng berlatar masa lalu, tetapi ingin mendengar dongeng yang tak jauh dari latar masa kini. Karena itulah, Diatmika kerap kali membekali diri dengan membeli buku-buku cerita anak terbaru.
Pengalaman serupa juga dimiliki Wayan Budiawan, seorang bapak muda asal Karangasem. Anaknya yang kini sudah berusia lima tahun sangat doyan dengan dongeng. Budi pun memborong buku-buku dongeng yang disusun I Nengah Tinggen asal Buleleng serta kumpulan dongeng yang diterbitkan Grasindo.
"Sebulan sekali pasti saya sempatkan ke toko buku hanya untuk membeli 10-20 buku dongeng. Kebetulan harga buku dongeng juga cukup murah, sehingga tak begitu membebani keuangan," ujar Budi.
Satu buku biasanya berisi 10 buah dongeng. Saban hari Budi mesti menceritakan minimal dua buah dongeng hingga anaknya benar-benar puas dan mau tidur.
Di sekolah anaknya akan menceritakan kembali dongeng yang dituturkan Budi. Jika ada temannya yang sudah pernah mendengar dongeng itu, putra Budi akan protes kepada ayahnya. Sang anak tak mau ketinggalan dengan teman-temannya.
"Makanya saya sekarang lebih sering ceritakan dongeng-dongeng dari luar negeri tetapi saya sesuaikan dengan kehidupan di Bali," katanya.
Made Taro, seorang pendongeng andalan Bali yang mengasuh Sanggar Kukuruyuk dalam bukunya, Dongeng dan Pendidikan menulis, bagi orang dewasa dongeng itu remeh. Akan tetapi bagi anak-anak, dongeng adalah kebahagiaan. "Melalui dongeng kita mengajak anak-anak untuk berpetualang, memperluas wawasan, optimisme menghadapi hidup, menajamkan perasaan dan berkenalan dengan tokoh-tokoh dan peristiwa yang memanusiakan manusia," katanya.
Namun, Budi dan Diatmika berharap dongeng-dongeng Bali bisa disegarkan kembali, disesuaikan dengan zaman saat ini. Bila perlu dibuat dongeng-dongeng baru yang pas dengan zamannya.
Usulan membuat dongeng-dongeng baru ini sempat dilontarkan pengarang sekaligus penerbit buku, Gde Aryantha Soethama. Pemilik percetakan Prasasti O. ini menyatakan salut dengan buku-buku dongeng yang diterbitkan pendongeng andalan Bali, Made Taro. Namun, Gde menyatakan buku-buku itu masih berupa kumpulan dongeng yang sudah ada.
"Saatnya kita membuat dongeng-dongeng baru yang sesuai dengan kondisi dan tantangan zaman saat ini. Hanya dengan begitu kita bisa menggeser posisi dongeng-dongeng asing seperti Doraemon atau pun Naruto," katanya.
Barangkali inilah tantangan untuk menghidupkan tradisi mendongeng di Bali. Anak-anak Bali akan lebih tertarik dengan dongeng-dongeng Bali jika dongeng-dongeng tersebut lebih segar, lebih menyapa dinamika zamannya. * Sujaya

1 komentar:

  1. Artikel anda:

    http://hiburan.infogue.com/
    http://hiburan.infogue.com/menghidupkan_kembali_ke_tradisi_mendongeng

    promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.