Terkini

Jangan Terbuai Puja-puji Bali


BALI merupakan sebuah contoh daerah yang berkembang karena upaya pencitraan. Lantaran dicitrakan sebagai daerah yang elok dan kaya budaya, pulau mungil ini pun tersohor ke seluruh dunia. Bali kerap digunjingkan orang. Karenanya, kemudian banyak yang penasaran ingin tahu Bali. Mereka pun berduyun-duyun datang ke Bali, ke tempat yang disebut-sebut sebagai daerah yang memiliki suasana alam nyaman, penduduk yang ramah serta budaya yang unik dan otentik.

Bali, The Last Paradise, (Bali, Sorga Terakhir) begitulah judul sebuah film tentang Bali yang diputar di Hollywood tahun 1930-an silam. Film inilah kemudian yang menggerakkan hati Vanina Walker, seorang wanita berkebangsaan Skotlandia tetapi berkewarganegaraan Amerika untuk datang ke Bali.
Sejatinya, citra sebagai daerah yang elok telah diberikan kepada Bali sejak berabad-abad silam. Mahapatih Gajah Mada yang memimpin pasukan Majapahit saat menginvasi Bali pada tahun 1343 memberi Bali dengan tiga julukan utama. Pertama, nusa ning nusa yang artinya pulaunya pulau atau rajanya pulau. Kedua, puncak ning giri yang artinya ujung teratas atau tertinggi dari gunung. Ketiga, tan hana madaning yang berarti tidak ada yang menyamai.
Boleh jadi karena segala keelokan itulah, Gajah Mada menganggap Bali mesti ditaklukkan, patut dikuasai di bawah panji-panji Majapahit. Selain, tentu saja karena alasan sikap Raja Bali sendiri yang menyatakan tak lagi takluk kepada Majapahit. Dan memang, invasi besar-besaran Gajah Mada bersama para Arya berhasil menaklukkan Bali yang ketika itu dipimpin raja terakhirnya, Sri Astha Sura Ratna Bhumi Banten. Penundukan kemudian tercatat mengubah banyak hal di Bali, baik politik, sosial maupun budaya.
Dua abad kemudian, tatkala melakukan ekspedisi mengelilingi bumi, pelaut asal Belanda, Cornelis de Houtman juga sempat menyinggahi Bali yang dalam peta-peta kala itu dinamakan dengan "Baelle". Setelah sempat mengunjungi sejumlah daerah di Bali, sang komodor menjuluki Bali sebagai "Jonk Hollands" yang secara harfiah berarti "Belanda Muda". Julukan yang diberikan Houtman ini pada akhirnya diikuti dengan sejarah penundukan Bali oleh Belanda tiga abad kemudian. Bali akhirnya bisa ditekuk Belanda setelah kerajaan-kerajaan di Pulau Dewata ini berhasil ditaklukkan.
Belanda kemudian mengkreasi citra Bali sebagai daerah tujuan wisata yang unik dan otentik. Sebuah kapal perusahaan pelayaran milik pemerintah Belanda yaitu Koninklijk Paketvaart Maatschapij (KPM) yang mulai dioperasikan tahun 1920 merupakan sebuah upaya pemerintah Belanda untuk menggarap potensi Bali sebagai daerah turisme. Belanda membuka kantor wisata di Singaraja disusul dengan pembangunan Bali Hotel di Denpasar serta fasilitas-fasilitas lainnya seperti bangunan pasanggrahan di Kintamani dan Taman Ujung, Sukasada, Karangasem.
Di zaman kemerdekaan, citra Bali elok masih tetap dipertahankan. Pemerintahan Presiden Soekarno mengencangkan kampanye citra elok itu agar wisatawan mau datang ke Bali. Hotel Grand Bali Beach pun dibangun dan Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai pun dibuka di Tuban. Bali kemudian memutar haluan dari daerah agraris secara perlahan bergerak sebagai daerah industri jasa kepariwisataan.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, pencitraan Bali yang elok jauh lebih kencang lagi. Terlebih lagi Bali dijadikan sebagai barometer dunia kepariwisataan Indonesia. Namun, seiring itu pula, kekuatan kapitalis secara perlahan menguasai pulau berbentuk palu godam ini. Banyak pemodal-pemodal besar termasuk asing menanamkan investasi kepariwisataan seperti hotel di tanah Bali. Bali pun kembali ditekuk secara ekonomi.
Begitulah jejak panjang citra elok yang kerap diikuti dengan tergoroknya Bali. Bila dulu Bali ditekuk secara politik, belakangan Bali digorok secara ekonomi, bahkan ideologi.
Memang, tak boleh diingkari pencitraan Bali yang elok turut pula memicu kemajuan Bali. Penundukan Majapahit mengguratkan zaman keemasan juga bagi Bali, khususnya di bidang kesusastraan dan kebudayaan secara umum pada masa pemerintahan Dhalem Waturenggong, raja dari keturunan penguasa yang ditunjuk Majapahit pascapenundukan. Belanda pun membalas budi Bali dengan membangun infrastruktur dan fasilitas publik. Pascakemerdekaan, pemerintah Indonesia juga tak sedikit mendirikan fasilitas yang mendorong kemajuan Bali.
Namun, sulit diabaikan betapa pencitraan Bali elok itu turut memicu kerusakan Bali. Sistem pelapisan sosial yang diskriminatif misalnya jelas-jelas merupakan warisan penundukan Majapahit yang diperkuat lagi tatkala Belanda menancapkan kekuasaannya. Begitu pula kerusakan lingkungan yang kian parah di Bali dipicu oleh pengembangan sektor kepariwisataan yang kurang terkendali.
Akan tetapi, manusia Bali kerap bangga dengan citra sebagai daerah yang elok. Mereka lupa, lalai bahwa pujian dan sanjungan tidak jarang menjadi racun. Bila tiada disikapi secara cerdas-bernas, pujian dan sanjungan itu justru bisa menjerumuskan. Sejarah telah begitu benderang menunjukkan, sanjungan Bali yang elok selalu diikuti dengan ditekuknya Bali.
Tetua-tetua Bali pun tiada lelah mengingatkan agar manusia Bali senantiasa waspada. Buka bikule, ngutgut ngupinin, "layaknya tikus yang menggigit sembari meniup". Karena terus ditiup-tiup, tak sadar sebentar kemudian kaki Bali digerogoti. * Sujaya

1 komentar:

  1. wah, saya sungguh kagum dengan artikel yang anda buat. Kronologis pembahasan, pemilihan kata, dan fakta yang benar tentang bali betul-betul mantap cara penyampaiannya. Hah, memang seperti itulah Bali. Saya kadang kurang setuju juga dengan beberapa pemikiran orang-orang bali yang merupakan tetangga saya di desa. Mereka terlalu manut, tidak pernah melakukan revolusi ke arah yang lebih maju, kadang males untuk belajar sesuatu dan bekerja. "Ah kan sudah punya sedikit warisan, ngapain pusing nyari kerja....", biasanya itulah kata-kata yang dilontarkan. Terlalu meboya. Kurang adanya jiwa independent dalam berusaha dan yang paling parah mereka sangat gampang diadu domba oleh dunia perpolitikan yang selalu memanfaatkan mereka. Ribut dengan saudara kandung bahkan saling membunuh bukanlah hal biasa lagi. Mungkin semua karena tingkat pengetahuan dan pendidikan mereka yang masih kurang. Tapi, banyak juga yang berpendidikan malahan lebih tidak manusiawi perbuatannya. Jadi bingung... sampai kapan Bali akan tetap BALI?

    www.gobuleleng.com kunjungi komunitas online anak Buleleng.

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.