Terkini

Sehari-hari Jadi Petugas Kebersihan Kuburan dan Pemulung

Ketut Dharma, Warga Asli Kuta yang Berkubang Kemiskinan (2)

Laporan I Made Sujaya


TAK
keliru jika tokoh Kuta, Jero Mangku Made Suwedja menyatakan masyarakat di pusat wisata itu sejatinya kalah bersaing dan tersisih. Kue pariwisata lebih banyak dinikmati orang luar tinimbang orang lokal. Ketut Dharma merupakan contoh paling dramatis dari kekalahan bersaing dan ketersisihan orang Kuta itu. Di tengah serbuan pendatang mengais dolar di tanah kelahirannya, Dharma hanya mampu menjadi kelompok marginal. Dharma mesti rela melakoni hidup hanya sebagai tenaga kebersihan kuburan sembari memulung aneka barang-barang bekas.
--------------------------------

HARI belum begitu siang. Aktivitas wisata di Kuta baru mulai tampak. Di setra bajang (kuburan untuk anak-anak) milik Desa Adat Kuta di lingkungan Pemamoran, Ketut Dharma terlihat suntuk menyapu dan memunguti aneka sampah yang mengotori tempat itu.
Itulah aktivitas keseharian Ketut Dharma sejak sebulan terakhir, sebagai petugas kebersihan kuburan. "Tiang baru sebulan menjalani pekerjaan ini," tutur Dharma.
Pekerjaan sebagai petugas kebersihan kuburan ini diberikan Bendesa Adat Kuta, IGK Sudira sebagai keprihatinan atas kondisi Dharma. Pasalnya, pekerjaan sebelumnya sebagai juru parkir yang diberikan Lembaga Pemberdayaan masyarakat (LPM) Kelurahan Kuta tidak mampu ditunaikan dengan baik.
"Saya tidak bisa memenuhi target sehingga saya memilih berhenti. Baru kemudian Gung Aji (panggilan IGK Sudira) memberikan saya untuk bersih-bersih di setra bajang," kata Dharma.
Dengan pekerjaan barunya itu, Dharma hanya bisa mengantongi duit Rp 350.000 sebulan. Jumlah yang tentu saja tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari di kawasan Kuta yang terkenal mahal.
Dharma juga tetap melakoni pekerjaan yang telah dijalankan selama ini yakni sebagai pemulung. Hanya saja, hasilnya juga tidak seberapa. "Seminggu paling hanya dapat Rp 15.000," ceritanya.
Sudira mengaku agak prihatin melihat Dharma memulung. Karenanya, untuk bisa menambah penghasilannya, Sudira menawarkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan kuburan anak-anak. "Kalau diberikan pekerjaan yang lain, dia tidak mampu. Akhirnya, saya tawarkan untuk mereresik (bersih-bersih) di setra bajang, dia mau melakoninya," kata Sudira.
Istri Dharma, Ni Wayan Rusni sangat membantu kebutuhan keluarganya dengan menjadi pedagang buah nenas di Pantai Kuta. Walaupun keuntungannya tidak begitu besar, paling tidak dapat menambal kekurangan pengeluaran sehari-hari.
Selain kebutuhan pokok, Dharma juga mesti memikirkan tiga orang anaknya. Putra pertamanya, Wayan Sudiarta dan Made Putrayasa kini duduk di bangku SD. Sementara anak ketiganya, Nyoman Suryani masih berumur 4 tahun. Kerap kali Dharma seperti teriris batinnya mendengar anak-anaknya menangis minta dibelikan jajan, sedangkan dirinya tak mengantongi duit sepeser pun.
Bagi Dharma, memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari sudah menjadi beban yang begitu berat. Karenanya, agak sulit baginya untuk berpikir memerbaiki rumahnya agar menjadi lebih layak huni. (*)

1 komentar:

  1. Sudah saatnya nyame Bali bersatu saling bantu demi kesejahteraan dan ajeg bali. Suwud ngenehang betek pedidi.

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.