Terkini

"Caru", Menjaga Harmoni Manusia dan Alam


HAMPIR di setiap wilayah desa adat, banjar serta pekarangan rumah orang Bali pernah digelar upacara pecaruan. Awam memahami upacara pecaruan sebagai persembahan kepada bhuta kala sehingga tidak mengganggu kehidupan umat manusia. Namun, secara filosofis, caru sejatinya bermakna mengingatkan manusia untuk tiada henti menjaga harmoni dengan alam.
----------------------------

I NYOMAN Singgin Wikarman dalam buku Caru Palemahan dan Sasih menjelaskan kata caru berarti 'bagus', 'cantik', 'harmonis'. Mecaru, kata Singgin Wikarman, dimaksudkan untuk memercantik, memerbagus dan mengharmoniskan. Yang dipercantik atau diharmoniskan adalah alam, baik itu lingkungan maupun musim.
Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Drs. I Ketut Wiana mengungkapkan agama Hindu memang senantiasa mengingatkan dan mengajarkan manusia untuk senantiasa harmonis dengan alam. Untuk mencapai kesejahteraan manusia, patut dilakoni dengan menjaga kesejahteraan alam.
"Kalau alam sejahtera, manusia juga akan sejahtera," kata Wiana yang juga dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Ketut Wiana menambahkan alam sudah memberikan begitu banyak kepada manusia. Karenanya, manusia patut mengembalikan pemberian alam itu yang disimbolkan melalui upacara pecaruan. Karena itu, upacara caru dalam tingkatan besar dinamakan tawur. Kata tawur dalam bahasa Bali bermakna 'membayar' atau 'mengembalikan'. Seberapa besar manusia mengambil dari alam, sebesar itu pula seyogyanya manusia mengembalikan kepada alam.
Bila mengikuti konsepsi caru semacam itu, sepatutnya alam Bali tidak sampai rusak hingga seperti saat ini. Semestinya, alam Bali bisa senantiasa terjaga, harmonis. Kenyataannya, semua nungkalik-nyungsang, terbalik, serbaparadoks. Setiap tahun hutan dibabat, pohon-pohon besar ditebangi. Hewan-hewan bebas pun kian punah hingga menjadi hewan langka. Belakangan, air di danau dan mata-mata air di berbagai tempat di Bali semakin menyusut.
Keadaan semacam ini, menurut pengamat lingkungan dari Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Made Merta karena pemahaman mengenai filosofis caru tidak anut dan sesuai dengan perilaku. Caru yang sejatinya merupakan usaha nyata menjaga kelestarian dan keharmonisan alam hanya berhenti sebatas upacara atau banten semata.
"Sepatutnya, caru yang filosofisnya untuk menjaga keharmonisan alam, harus seimbang antara caru sekala dengan niskala. Jika secara niskala sudah diwujudkan lewat upacara, secara sekala mesti diwujudkan dengan aksi nyata menjaga lingkungan. Sederhananya, jangan membuang sampah sembarangan, jangan sembarangan menebangi pohon serta ingat menanam pohon atau mengadakan penghijauan," beber Merta.
Ketut Wiana juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, mengharapkan alam agar senantiasa terjaga kelestariannya dan bisa harmonis dengan kehidupan umat manusia tidak bisa hanya dengan upacara semata. Patut juga diparipurnakan dengan perilaku yang sungguh-sungguh untuk menyayangi dan merawat alam.
"Bukan upacaranya yang salah, tetapi kitalah yang belum tuntas memahami apa sesungguhnya pesan-pesan agama di balik upacara itu sehingga kita terjebak pada pemahaman sempit menganggap upacara itu segala-galanya. Padahal, beragama itu sesungguhnya bagaimana kita berperilaku yang baik, anut dan harmonis," kata Wiana.
Ketua Kelompok Studi Lingkungan Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Univérsitas Udayana (Unud), Drs. Ketut Gede Dharma Putra, M.Sc., juga sepakat dengan Wiana. Pelaksanaan caru dengan wujud upacara sebaiknya jangan dihalang-halangi. Pasalnya, ritual juga menjadi jalan bhakti. Apalagi jika jalan upacara itu didasari dengan ketulusan dan kejujuran hati. Namun, patut diupayakan suatu langkah nyata pula agar pelaksanaan upacara itu tidak malah menimbulkan masalah lingkungan.
"Seperti sampah-sampah upacara itu, setelah upacara selesai sebaiknya bisa diolah atau dibakar. Kalau dulu mungkin mudah membuang sampah-sampah upacara itu karena lahan banyak. Kini lahan semakin sedikit, itu tentu menjadi masalah tersendiri," kata Dharma Putra.
Karena itulah, Dharma Putra menyarankan agar di masing-masing desa pakraman disediakan insinerator atau alat untuk membakar sampah upacara itu. Selain itu, pemahaman masyarakat tentang pentingnya caru sekala dalam wujud laku nyata sehari-hari juga mesti semakin ditingkatkan. Hal ini memerlukan keteladanan yang tiada henti. (*)

1 komentar:

  1. setju banget dengan pendapat pak ketut gede dharma putra, sampah upacara semakin banyak di Bali harus segera dicarikan solusinya agar Bali tidak menjadi pulau sampah

    BalasHapus

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.