Terkini

Antara Simbol Pengikat Jiwa dan Keagungan



Makna Naga Banda dalam Tradisi  Pelebon Bangsawan di Bali 

Pelebon Penglingsir (tetua yang juga diangap sebagai raja) Puri Ubud, Cokorda Agung Suyasa, Selasa (15/7) lalu yang berlangsung megah nan mewah memang menyedot perhatian orang. Tidak saja karena dalam upacara itu ditampilkan bade (menara) setinggi 28,5 meter dan seberat 11 ton, juga yang dianggap istimewa hadirnya Naga Banda, dua boneka raksasa berbentuk naga dengan ekor panjang. Memang, cukup jarang sebuah upacara pelebon diiringi dengan Naga Banda. Apa makna Naga Banda dalam pelebon serta mengapa hanya orang-orang tertentu yang "berhak" menggunakannya.


Naga Banda memang terkesan istimewa. Wajar saja, tidak dalam setiap upacara pelebon Naga Banda digunakan. Pun, tidak dalam setiap pelebon bangsawan Naga Banda bisa disaksikan. 


"Yang berhak memakai Naga Banda adalah keturunan Dhalem Waturenggong atau yang diizinkan oleh keturunannya. Itulah haknya, dipakai atau tidak, terserah pada yang bersangkutan di kemudian hari," kata Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudarta, pengasuh rubrik konsultasi tattwa (filsafat) agama Hindu di majalah Sarad

Penulis buku-buku agama Hindu, almarhum I Gusti Ketut Kaler lebih merinci lagi mereka yang "berhak" itu. Menurutnya, selain keluarga Raja Gelgel/Klungkung yang "berhak" menggunakan Naga Banda adalah keluarga yang mendapat anugerah khusus dari Raja Gelgel/Klungkung serta Pedanda Budha. 

Artinya, hanya bangsawan terpilihlah yang menggunakan Naga Banda dalam upacara pelebon-nya. Karena itu, wajar jika kemudian muncul kesan, Naga Banda sebagai simbol keagungan, simbol keistimewaan. 

Namun, jika ditilik dari isitilahnya, Naga Banda mengandung arti sebagai pengikat atau pembelenggu (bandha). Dalam buku Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar?, Kaler menyebutkan Naga Banda sebagai simbolis mendiang raja yang memiliki ikatan erat dengan masyarakat, mempunyai pertalian yang intim dengan soal duniawiah material. 

Sementara I Nyoman Singgin Wikarman mengungkapkan Naga Banda sebagai lambang keinginan. Betapa besar dan panjangnya keinginan atau cita-cita sang penguasa tunggal (raja). 

Keinginan atau cita-cita yang besar dan panjang inilah yang harus dimatikan agar tidak menjadi penghalang bagi roh menuju sorga. Pembunuhan keinginan ini disimbolkan dengan ritus memanah Naga Banda yang dilakukan seorang sulinggih

"Memanah Naga Banda berarti membunuh keinginan-keinginan sang Raja agar jangan merintangi perjalanan roh menuju sorga," urai Singgin Wikarman dalam buku Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)

Namun, Tjok Rai Sudarta kurang sependapat dengan Singgin Wikarman. Menurut Tjok Rai Sudarta, memanah Naga Banda bukan berarti membunuh naga tersebut, tetapi memberikan arah ke mana akan dituju. Itu sebabnya saat memanah Naga Banda pendeta melepas atau menunjukkan anak-anak panahnya ke semua atau sepuluh arah mata angin --ke delapan arah penjuru ditambah ke atas dan ke bawah. Karena pendeta itu sendiri tidak tahu entah arah mana nanti yang akan ditempuh oleh sang jiwa lewat Naga Banda itu, sesuai dengan karma yang bersangkutan. 

"Naga Banda itu adalah kendaraan raja untuk mengikat jiwa untuk nanti diantar ke alam baka," kata Tjok Rai Sudarta. 

Karena itu, yang berhak memanah Naga Banda juga bukan sembarang pendeta. Menurut Tjok Rai Sudarta yang berhak melakukan tugas itu yakni pendeta yang mampu dan ditugaskan oleh nabe-nya yang sudah pernah melaksanakan ritual memanah Naga Banda yakni Dang Hyang Dwijendra dan Dang Hyang Astapaka. 

Begitulah, Naga Banda menjadi istimewa, kendaraan khusus yang mengantar sang Raja menuju alam sunya. Namun, kendaraan yang paling istimewa tiada lain adalah karma. Bahkan, karmalah kendaraan yang paling jujur dan setia. 

Panjangnya 2,5 Km 

Naga Banda memang diwujudkan dalam bentuk boneka naga berukuran raksasa. Namun, ukuran Naga Banda yang kini kerap dilihat orang sejatinya masih jauh lebih kecil dari ukuran seharusnya. 

Penulis buku-buku agama Hindu, almarhum I Gusti Ketut Kaler dalam buku Ngaben: Mengapa Mayat Dibakar? menjelaskan panjang patung seekor Naga Banda seharusnya 1.600 depa (satu depa sama dengan satu rentangan tangan). Bila satu depa sama dengan sekitar 150 cm (rentangan tangan orang dewasa), maka Naga Banda ini panjangnya mencapai 2.400 meter atau hampir 2,5 km. 

Bila memenuhi ketentuan itu, tentu Naga Banda akan menjadi sangat panjang. Hal ini tentu akan cukup merepotkan dalam pelaksanaan upacaranya. Selain itu, biaya yang dibutuhkan juga jauh lebih besar. 

Karena itu, ukuran patung Naga Banda pun disiasati. Agar Naga Banda tidak terlalu panjang tetapi aturannya juga tidak dilanggar, maka ukuran yang digunakan adalah depa anak-anak. Badan sang naga dibuat formalitas dengan tali sederhana saja. 

"Hanya kepala dan bagian tertentu serta ujung ekornya saja dibuat seindah mungkin. Bagian badan di tengah-tengah digulung hingga antara kepala dan ekor tetap memenuhi estetika yang serasi dan seimbang," jelas Kaler. 

Naga Banda akan diletakkan berdampingan dengan jenazah raja yang meninggal sejak menjelang dan sampai hari pabersihan. Penempatan Naga Banda pun ada aturannya dan bersifat mutlak. Kepala Naga Banda menghadap ke arah Kelod-Kauh (Barat Daya) serta ekornya di Kaja Kangin (Timur Laut). 

"Dengan posisi itu, sawa mendiang bagaikan diikat oleh Naga Banda," kata Kaler. 

Kaja-Kangin merupakan daerah ulu (hulu) yang menurut pengider-ider dikuasai Sang Hyang Sambu. Sementara Kelod-Kauh merupakan daerah paling teben (hilir) dengan dewata yang berkuasa, Sang Hyang Ludra. 

Pada hari pabersihan, Naga Banda bersama-sama kajang, bade dan perlengkapan pelebon lainnya di-pelaspas dan di-urip ("dihidupkan"). Menjelang pemberangkatan ke tunon (tempat pembakaran), Naga Banda dipanah oleh Ida Pedanda yang muput karya (pemimpin upacara). 
Anak panah diarahkan ke sepuluh penjuru --delapan arah mata angin dan arah atas dan bawah. Namun, pemanahan Naga Banda ini biasanya hanya dilakukan secara simbolis. 

Setelah selesai memanah Naga Banda, Ida Pedanda kemudian duduk di samping kiri Naga Banda. Di depannya telah disiapkan peralatan puja. Kemudian Naga Banda dan bade pun diarak perlahan-lahan menuju tempat pembakaran. 

Selama perjalanan ke tempat pembakaran, sang pendeta menguncarkan puja yang disebut Puja Ananga Bayu Sutra sambil tangan kanannya memeluk bahu sang Naga Banda. Puja sang wiku selesai bersamaan dengan tibanya Naga Banda di tempat pembakaran. Setelah semua prosesi dilalui, Naga Banda bersama bade pun di-pralina (bakar). (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.