Terkini

Puputan Klungkung dalam Dua Pandangan

Sebuah Catatan tentang Usaha Pemaknaan

Oleh I Made Sujaya 

 

Pemedal agung Puri Klungkung (Repro: www.kitlv.nl)


Ketika kita memperingati suatu peristiwa bersejarah, sejatinya kita melakukan usaha pemberian makna atas peristiwa itu. Sejarah sendiri juga sebuah usaha pemberian makna. Kita memandang peristiwa itu cukup penting sehingga kita berikan perhatian istimewa. Hal ini juga berlaku pada peristiwa perang antara Kerajaan Klungkung dan Belanda yang ditutup dengan suatu akhir yang tragis yakni kematian raja, kerabat dan sebagian rakyatnya yang kita sebut sebagai Puputan Klungkung.
 
Pemberian makna terhadap Puputan Klungkung telah terjadi sepanjang usia peristiwa tersebut. Jika kini kita menandai peristiwa itu dengan peringatan seabad, maka seabad pula kita mencoba memaknai peristiwa tersebut.

Apabila kita coba periksa tanggapan atau pun resepsi atas peristiwa Puputan Klungkung selama ini, secara umum kita menemukan ada dua pandangan. Pandangan pertama yang lebih bersifat konservatif dan mapan yang memaknai Puputan Klungkung sebagai bentuk heorisme dan patriotisme Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Klungkung bersama kerabat dan rakyat Klungkung dalam membela kedaulatan dan kehormatan kerajaan dari nafsu kuasa Belanda. Sikap heroisme dan patriotisme itu dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali. Sikap patriotisme raja, kerabat dan rakyat Klungkung itu memang terbingkai dalam kesadaran yang sangat lokal, membela kerajaan, belum dilandasai kesadaran dan rasa nasionalisme sebagai bangsa. Akan tetapi, Puputan Klungkung ditempatkan sebagai mozaik sejarah perjuangan bangsa dalam menentang penetrasi kekuasan kolonial Belanda.


Pandangan kedua yang memaknai Puputan Klungkung sebagai sebuah kesia-siaan, bentuk keputusasaan, bahkan ada yang menganggapnya kekonyolan sejarah. Pandangan ini mempertanyakan keputusan raja untuk berpuputan sebagai sebuah ketidakcerdasan strategi. Penganut pandangan ini berpendapat raja semestinya mengambil jalan diplomasi, jalan damai sehingga kerajaan dan rakyat bisa diselamatkan.


Pandangan kedua yang umumnya tidak kita temukan dalam literatur-literatur tentang Puputan Klungkung memang terasa apriori. Lebih dari itu, pandangan semacam ini melihat sejarah dari ukuran-ukuran masa kini yang tentu saja tidak sama konteks zamannya. Nilai dalam suatu zaman, kerap kali berbeda bahkan kontradiktif pada zaman lainnya sebagai akibat dari penetrasi nilai-nilai baru. Karena itu pula, makna Puputan Klungkung pada pandangan kedua ini sudah sering dibantah.


Akan tetapi, keragaman makna atas Puputan Klungkung adalah sebuah keniscayaan. Artinya, pandangan-pandangan yang berbeda bahkan kontradiktik dengan pandangan yang sudah mapan merupakan suatu hal yang tidak mungkin dihindari. Sebuah peristiwa sejarah tidak jauh berbeda dengan sebuah teks dalam pemahaman teori sastra yang bisa melahirkan keragaman makna. Bahkan, tanggapan pembaca atau pun masyarakat terhadap suatu peristiwa sejarah kerap kali berubah-ubah atau mengalami pergeseran dalam setiap zaman. Perkembangan pemaknaan yang saya alami dalam meresepsi peristiwa Puputan Klungkung sejak duduk di bangku SMP hingga sekarang merupakan sebuah contoh sederhana. Pergeseran makna atas peristiwa Gerakan 30 September 1965 bisa disebut sebagai contoh yang lain.


Namun, keragaman makna atas sejarah mestilah tetap dalam kerangka memberikan kebermanfaatan dalam menjalani hari ini dan hari esok. Artinya, gemilang atau pun kelam sejarah itu, tetaplah harus fungsional untuk tujuan membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu sejarah memiliki arti bagi kehidupan.


Bagi saya, pemaknaan terhadap peristiwa Puputan Klungkung tidak bisa dengan menempatkan peristiwa ini secara otonom. Bagaimana pun, Puputan Klungkung tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri. Puputan Klungkung adalah bagian dari sebuah proses penetrasi kolonialisme Belanda di Bali, bahkan di Nusantara. Karena itu, Puputan Klungkung mestilah diletakkan dalam konteks bagaimana Bali merespons penetrasi kolonial yang menurut sejumlah penelitian disebutkan dimulai pada awal abad ke-19.


Puputan Klungkung adalah babak akhir dari perlawanan Bali dalam kerangka ideologi tradisional (negara kerajaan) menghadapi Belanda. Dalam babak-babak sebelumnya, perlawanan Bali sudah tersaji dalam aneka pilihan warna. Ada yang memilih jalan kompromi atau bekerja sama, ada yang memilih jalan mengangkat senjata meskipun harus berakhir dengan kematian atau pun perpaduan antara kedua pilihan jalan tersebut. Klungkung menggunakan berbagai pilihan jalan itu saat berhadapan dengan kolonialisme Belanda. Diawali dengan jalan kerja sama, lalu mengangkat senjata (Perang Kusamba), disusul kompromi dan diplomasi (jalinan kontrak politik dengan Belanda) serta diakhiri dengan jalan mengangkat senjata yang berujung pada puputan.


Menarik untuk disimak nukilan sejarah pulau alit ini di awal abad ke-19. Bermula dari terjadinya perpindahan kekuasaan dari Belanda kepada Inggris di Pulau Jawa. Raja Buleleng, Gusti Gde Ngurah Karangasem menguasai Jembrana untuk tujuan menduduki Banyuwangi di Pulau Jawa. Tindakan ini membuat geram pemerintah Inggris di Batavia sehingga dikirimlah satu eskader angkatan laut Inggris ke Buleleng pada tahun 1814. Tujuannya, untuk memberi pelajaran kepada Raja Buleleng. Usaha pemerintah Inggris ini mendapat perlawanan hebat. Tidak saja dari Raja Buleleng, tetapi juga dari semua raja di Bali. Raja-raja lainnya di Bali mengirimkan bantuan pasukannya ke Buleleng untuk membantu kerajaan di bagian utara Bali itu. Raja-raja Bali itu bertekad untuk berjuang bersama menentang agresi militer dari luar. Sikap ini merupakan pertama kalinya terjadi pada raja-raja Bali pada masa itu . 


Sikap bersatu raja-raja Bali terbukti ampuh. Pemimpin pasukan Inggris, Jenderal Nightingale diperintahkan Batavia untuk memundurkan pasukannya. Pemerintah Inggris tidak bersedia berperang dengan raja-raja Bali yang mempunyai tekad bersatu melawan musuh.
 

Namun, tiga puluh tahun kemudian, semangat bersatu Bali itu mengalami kemerosotan. Manakala Belanda hendak menyerang Kerajaan Buleleng dan Karangasem gara-gara masalah perampasan kapal milik Belanda, raja-raja Bali enggan untuk membantu kedua kerajaan itu. Bahkan, dorongan Raja Klungkung sebagai sasuhunan raja-raja Bali dan Lombok agar raja-raja lainnya membantu Buleleng dan Karangasem tiada mendapat respons yang memadai.
 

Ketidakkompakan raja-raja Bali itu kemudian terbukti semakin memudahkan Belanda mencengkeramkan kekuasannya di Bali. Kita tahu Buleleng kemudian jatuh ke tangan Belanda yang menjadi pintu pembuka bagi Belanda untuk menguasai Bali secara keseluruhan. Setelah menguasai Buleleng, Belanda dengan mudah menaklukkan Karangasem, disusul Gianyar yang menyerahkan kedaulatannya, lalu Badung yang dihabisi dalam perang puputan dan terakhir kekalahan Klungkung dalam apa yang kemudian disebut Puputan Klungkung melengkapi kekuasaan Belanda.
 

Artinya, Puputan Klungkung adalah buah dari kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang karut-marut dan diwarnai ego masing-masing kerajaan. Kohesivitas dan solidaritas antarkerajaan sangat jauh merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Jika saja raja-raja Bali menyadari tentang betapa pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, saling bantu satu sama lain, memandang ancaman terhadap satu kerajaan sebagai ancaman bagi semua, tentu Puputan Klungkung tidak akan terjadi, begitu juga Puputan Badung atau pun Gianyar yang memilih jalan tidak populer menyerahkan kedaulatan atas kerajaannya di bawah pengawasan Belanda. 

Sampai di sini, makna Puputan Klungkung yang bisa diangkat adalah betapa pentingnya Bali saling bergandengan tangan dan menghindarkan konflik atau pertikaian antarsesama Bali. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.