Terkini

Monumen Kecerdasan Bali Bersatu di Samuan Tiga

Oleh I Made Sujaya

Peradaban Bali kini amat berutang kepada Pura Samuan Tiga yang terletak di Desa Bedulu, Gianyar. Di pura inilah konsep Desa Pakraman dan Kahyangan Tiga sebagai implementasi konsep pemujaan Tri Murti dirumuskan. Dari pura ini pula, Bali kemudian terbebas dari konflik antarsekte keagamaan. Pura Samuan Tiga mengubah wajah Bali hingga tampak seperti sekarang. 

Sekitar abad ke-11, pada masa pemerintahan raja suami-istri Sri Dharma Udayana dan Gunaprya Dharmapatni adalah sebuah pertemuan mahapenting. Pertemuan ini dipimpin Senapati Mpu Kuturan yang didatangkan dari Jawa Timur khusus untuk merumuskan format pelaksanaan keagamaan yang bisa mengadopsi berbagai sekte keagamaan yang ada saat itu. Memang, kala itu Bali kerap menuai konflik lantaran banyaknya sekte keagamaan. Setidaknya ada enam sekte di Bali sat itu yakni Pasupata, Bhairawa, Siwa Sidhanta, Waisnawa, Budha, Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Pertemuan agung itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Babad Pasek, dihadiri oleh utusan Siwa, Budha dan Bali Aga.

Dalam pertemuan ini pula kemudian lahir konsep pemujaan Tri Murti yakni Brahma, Wisnu dan Siwa. Berikutnya, untuk mengimplementasikan konsep pemujaan ini, dirumuskanlah Kahyangan Tiga sebagai tempat pemujaan ketiga dewa tersebut. Dari sinilah kemudian lahir lagi konsep kemasyarakatan berupa desa pakraman yang diwajibkan memiliki tempat pemujaan Kahyangan Tiga yakni Pura Puseh, Pura Desa (di beberapa tempat disebut Bale Agung) serta Pura Dalem.

Begitu pentingnya arti pertemuan tersebut, kemudian di tempat pelaksanaan pertemuan itu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Samuan Tiga. Samuan berasal dari kata pesamuhan yang berarti ‘pertemuan, penyatuan’. Tiga diambil dari tiga unsur penting yang hadir dalam pertemuan yakni Siwa, Budha dan Bali Aga.

Pertemuan Samuan Tiga merupakan salah satu jejak kecerdasan manusia Bali dalam menyikapi dinamika pada dirinya. Konflik internal yang mengemuka seperti konflik antarsekte pada masa itu, disikapi dengan kesadaran dan semangat untuk menggelindingkan perubahan. Maka lahirlah Bali baru yang disesuaikan dengan semangat zamannya. Bali menjadi mengalir, menyegarkan dan yang utama makin mengutuh.

Kini Bali juga mengalami dinamika yang jauh lebih kompleks. Tidak saja konflik internal yang masih konservatif, Bali juga dihadapkan pada situasi kepungan zaman yang kian dahsyat. Perlahan, tanpa disadari, Bali semakin mengecil dan terjepit.

Namun, kesadaran dan semangat untuk menggelindingkan perubahan masih belum tuntas. Akibatnya, Bali tetap saja berputar-putar dan cenderung terjerembab pada kubangan persoalan yang sama.

Sungguh, Bali kini memerlukan suatu penataan ulang sosial-kultural menuju Bali baru yang sesuai dengan semangat zaman kini. Untuk melakukan itu, Bali tidak semata butuh pemimpin baru, tetapi yang jauh lebih penting pemimpin visioner berkesadaran utuh seperti Mpu Kuturan yang berani menata ulang Bali di Samuan Tiga. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.