Terkini

Menghormati Jasa Hewan, Menetralisir Sifat Binatang dalam Diri

Memaknai Hari “Tumpek Kandang”
Oleh I Made Sujaya

SABTU (12/4) lalu, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Uye, masyarakat Bali (Hindu) merayakan hari suci Tumpek Uye atau disebut juga Tumpek Kandang atau Tumpek Andang. Awam kerap memaknai hari ini sebagai hari untuk memuliakan segala jenis hewan sebagai bagian penting ekosistem penopang kehidupan di dunia. Inilah satu dari setumpuk tradisi Bali yang memberikan pesan agar manusia senantiasa bersahabat dengan alam dengan segenap isinya. Apa sebetulnya makna hari Tumpek Kandang? Lalu, apa relevansinya dengan konteks kekinian?
---------------------------------------------


BERBAHAGIALAH masyarakat Bali yang mewarisi beragam tradisi jaga lingkungan yang unik sekaligus otentik. Tradisi-tradisi berkesadaran lingkungan mengajarkan manusia Bali bagaimana semestinya merawat kelestarian alam dengan menjaga keseimbangan ekosistemnya, senantiasa mewujudkan harmoni hubungan manusia dengan alam dengan segenap isinya.
Hari raya tumpek merupakan perwujudan dari tradisi berkesadaran lingkungan itu. Selain Tumpek Pengatag yang dikenal sebagai hari untuk menyucikan tumbuh-tumbuhan, manusia Bali juga mengenal Tumpek Kandang sebagai hari untuk memuliakan hewan.
Sabtu (12/4) lalu, bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Uye, manusia Bali kembali merayakan Tumpek Kandang. Pada hari ini masyarakat Bali bakal menggelar upacara khusus kepada hewan khususnya hewan piaraan. Maka, pemandangan peternak menghaturkan sesajen untuk sapi atau babi piaraannya jamak terlihat di Bali kemarin.
Penekun agama, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA, M.M., dalam buku Ajaran Agama Hindu (Acara Agama) menyatakan Tumpek Uye sejatinya sebagai korban suci untuk semua jenis binatang yang ada di alam semesta ini seperti golongan sato, mina, paksi, manuk, serta gumatap-gumitip. Tujuannya untuk memberikan penyupatan agar kelahiran berikutnya dari roh hewan-hewan tersebut bisa meningkat kualitas tingkat kehidupannya.
Namun, Sudarsana menilai penyupatan itu tidak semata untuk binatang dalam pengertian fisik yang ada di bhuwana agung (alam semesta), tetapi juga nonfisik berupa sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia (bhuwana alit). Makna ini dicermati dari penyebutan Tumpek Uye sebagai Tumpek Kandang. Penyebutan Tumpek Kandang tiada terlepas dari perhitungan dina (hari). Saniscara (Sabtu) dianggap memiliki urip 9, wara kliwon memiliki urip 8 dan wuku uye juga memiliki urip 8. Jika dijumlahkan, Saniscara Kliwon Uye memiliki urip 25. Jika kedua angka itu dijumlahkan, didapat angka 7. Berdasarkan Tattwa Samkhya, hari dengan urip 7 dianggap sebagai hari berwatak rajah yang disejajarkan dengan watak sato (binatang).
Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga kerap mengkonsumsi daging yang bersumber dari hewan. Karenanya, unsur-unsur binatang telah bersemayam juga dalam tubuh manusia. Semua ini sedikit banyak juga membawa pengaruh pada tabiat, sifat dan karakter manusia. Karena itu, manusia dikonsepsikan dalam Hindu memiliki sifat Tri Guna yakni satwam, rajas dan tamas.
Karenanya, dalam hari suci Tumpek Kandang, manusia seyogyanya menyucikan diri, menetralisir (nyomya) kekuatan-kekuatan binatang dalam diri.
Di luar konsepsi agama seperti itu, perayaan Tumpek Kandang sejatinya dapat dipandang sebagai pernyataan rasa terima kasih dan syukur manusia Bali kepada Sang Pencipta yang telah mengadakan berbagai jenis fauna di jagat semesta ini. Seperti halnya tumbuh-tumbuhan, hewan memiliki andil dan jasa yang tiada terbilang besarnya untuk menopang kehidupan manusia. Kecuali menopang kebutuhan konsumsi manusia, hewan juga membuat hidup manusia menjadi lebih mudah dan nyaman. Manusia kerap meminta pertolongan kepada hewan-hewan tersebut. Lihat saja petani yang memanfaatkan sapi atau kerbau untuk membajak sawah, kusir dokar yang memanfaatkan kuda untuk menarik dokarnya.
Bahkan, jika dicermati lagi, hewan bisa memberikan pesan-pesan penting bagi kehidupan manusia. Hewan kerap lebih awal memberi isyarat akan terjadinya bencana sehingga manusia yang berakrab dengan sasmita alam akan bisa mengetahui bencana segera menerjang. Tengok saja bencana Tsunami yang diawali tanda-tanda hijrahnya burung-burung atau gunugn merapi meletus diawali dengan. Hewan-hewan tiada henti memberi tanda alam bagi keselamatan manusia, memang.
Keseimbangan ekosistem yang bermuara pada ketenangan hidup manusia juga sangat ditopang oleh peran berbagai jenis hewan. Tanpa kehadiran hewan, daur kehidupan tidak akan terjadi. Alam menjadi rusak dan manusia pun akan ikut rusak. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.