Terkini

Bencana Jadi Berwajah Gelap karena Kita Serakah


Wawancara dengan Penutur Kejernihan, Gede Prama

Bencana alam kerap kali dipandang sebagai sesuatu yang berwajah gelap. Musibah yang datang seringkali dianggap sebagai kemarahan atau kemurkaan alam. Yang lainnya menyebut bencana itu sebagai hukuman dari Tuhan. Karenanya, ketika bencana alam datang, orang pun tenggelam dalam kesedihannya. Dia lupa bahwa lebih banyak hari-hari dalam hidupnya berwajah indah, terang dan membahagiakan.

“Bencana jadi terlihat berwajah gelap karena hati kita serakah” kata penutur kejernihan Gede Prama tatkala berbicara di hadapan warga Kuta, Minggu, 13 Agustus 2006 dalam suatu acara dialog informal di rumah dr. Wayan Mustika, seorang warga Kuta yang juga penulis buku Dialog Spiritual. Dialog informal di rumah Mustika tersebut merupakan kelanjutan dari acara dialog pencerahan sehari sebelumnya di wantilan kantor Lurah Kuta atas undangan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kuta. Karena merasa masih belum puas, sejumlah warga Kuta kemudian “membajak” Gede Prama untuk berdialog lagi secara informal di rumah Mustika.


Ada sejumlah renungan yang disampaikan Gede Prama dalam dialog yang berlangsung santai dan penuh keakraban itu. balisaja.com turut hadir dalam acara itu mencoba menyajikan dialog tersebut dalam bentuk wawancara berikut ini.
-----------------------------------------------------------

Soal banyaknya terjadi bunuh diri di Bali belakangan ini. Bagaimana Anda melihat fenomena tersebut?
Sahabat-sahabat yang menekuni parapsikologi (psikologi yang berkaitan reinkarnasi) menyatakan orang yang sekali pernah bunuh diri cenderung di kehidupan setelahnya akan bunuh diri lagi. Kebiasaan bunuh diri cenderung terulang pada kehidupan berikutnya. Orang yang bunuh diri, ketika diteliti kehidupan sebelumnya juga pernah bunuh diri. Jadi, bunuh diri sebuah kebiasaan yang tidak disarankan. Dari segi karma, membunuh diri itu memotong aliran karma. Karma kita sedang mengalir, tiba-tiba kita potong. Dikira oleh yang bersangkutan, dengan bunuh diri pekerjaannya selesai, tidak sama sekali. Nanti, aliran karma-nya akan berlanjut. 

Bagaimana dengan euthanisa (mengakhiri hidup orang yang sedang menderita karena sakit)?
Memang dari segi kita yang sehat, euthanasia itu menghentikan penderitaan seseorang. Tapi kita lupa sedang menutup aliran karma seseorang. Bisa jadi dia menderita dalam rangka membayar utang karma-nya. Tapi karena alasan kita sebagai kasihan, kita suntik dia mati, akhirnya dia tidak berhasil membayar utang karma-nya secara penuh. Karena rasa sakit, penderitaan itu adalah salah satu sarana pemurnian yang mengagumkan. Makanya, kalau kita belajar Budha agak dalam, di situ ada segelintir guru yang memilih penderitaan dibandingkan kebahagiaan. Kalau kita orang biasa kan memilih kebahagiaan, tidak mau memilih penderitaan. Bukan mau gagah-gagahan. Tapi, karena penderitaan merupakan langkah-langkah pemurnian jiwa yang paling mengagumkan. Makanya, meditasi guru Budha agak terbalik dengan orang jantung sehat. Kalau orang-orang jantung sehat menyarankan hirup yang sehat, buang yang kotor. Kalau guru-guru Budha nggak mau begitu. Meditasinya terbalik. Di mana pun dia meditasi dia akan tarik yang kotor-kotor dan keluarkan yang bersih. Kenapa itu dilakukan? Mempercepat aliran karma. Karena kalau berani mengambil penderitaan, aliran karma bisa dipercepat. 

Lantas, bagaimana cara orang agar bisa menjalani penderitaan sebagai jalan pemurnian jiwa?
Di Budha berulang-ulang diajarkan, penderitaan itu asalnya kemelekatan. Apa pun yang kita lekati akan membuat kita menderita, mulai dari motor, rumah, istri, suami, semuanya. Kenapa kalau dilekati pasti menderita? Karena semuanya tidak kekal. Yang baik bisa menjadi buruk, yang suci menjadi leteh, sehingga berputar hukum alam. Sehingga salah satu sumber agar bisa keluar dari penderitaan adalah keluar dari kemelekatan. 

Sebagai manusia, apakah mungkin kita keluar dari kemelekatan? 
Keluar dari kemelekatan bukan berarti menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab. Pengertian saya, jadi seorang suami, jadilah suami yang baik. Jadi seorang ayah, jadilah seorang ayah yang baik. Namun, siapkan sejak awal istri dan anak kita, sebagian atau sekurang-kurangnya satu akan mengkhianati kita. Tapi, janganlah benci mereka karena mereka akan mengkhianati mereka. Karena kebencian itu sebentuk kekotoran batin. Siapkan sejak awal untuk tidak kecewa kalau dikhianati. Jadi, keluar dari kemelekatan itu bukan berarti kita bisa menjadi seorang ayah yang seenaknya, bukan. Kita tetap melakukan kewajiban sebagai seorang ayah atau suami sebaik-baiknya, tetapi hasilnya yang tidak melekat. 

Bagaimana menyikapi kerapnya terjadi bencana? 
Soal bencana, ada banyak teman menyatakan ini hukuman Tuhan, ini hukum keserakahan manusia dan lain-lain. Silahkan saja berargumen. Tapi, saya mau cerita sedikit. Suatu hari ada seorang teman saya, pendeta Budha bernama Azan Bram. Saat itu sedang dilaksanakan pembangunan wihara di Australia Barat. Karena tidak punya keterampilan membangun tembok juga tidak punya uang untuk membayar tukang membuat tembok, sementara yang dimiliki hanya bahan-bahan tembok yang merupakan sumbangan dari banyak pihak, para pendeta itu itu membangun sendiri tembok tersebut. Azan Bram mendapat tugas memasang 1.000 bata. Bata pun ditumpuk-tumpuk seadanya. Setelah selesai terpasang 1.000 bata, barulah Azan Bram menemukan dua di antara 1.000 bata yang pasangannya bengkok. Dia pun lapor ke ketuanya hendak membongkar pasangan batanya itu tapi dilarang. Karena merasa malu, seumur-umur Azan Bram tidak pernah mengajak tamu yang berkunjung ke wihara ke tembok yang dibangunnya. Suatu hari ada tamu yang nyelonong melihat dua bata yang pasangannya bengkok itu. Azan Bram malu lalu minta maaf. Tapi sang tamu menyatakan jangan minta maaf, ini tembok yang indah. Artinya apa? Seringkali kita melihat diri kita, suami kita, istri kita, kehidupan kita, yang kita lihat hanya dua bata bengkok. Kita lupa di luar bata bengkok itu ada 998 bata yang lurus. Sekarang coba dihitung-hitung. Dari 365 hari setahun, berapa hari bencana? Bencana itu wajahnya jadi gelap karena kita serakah. Kita baru dicoba dengan bencana sehari saja sudah merasa sangat menderita. Kita lupa lebih banyak hari yang indah. Karena itu tidak saya sarankan bagi banyak sahabat melihat bencana dengan wajah yang terlalu gelap. Bagi saya, hidup-mati milik Tuhan.Kapan pun dipanggil, kalau Beliau berkehendak kita tidak berdaya. Termasuk caranya pun Beliau yang menentukan. 

Artinya, dibutuhkan keikhlasan diri? 
Ya. Tanpa keikhlasan kita tak akan bisa dibersihkan oleh derita. Kalau kita nggak ikhlas kita akan ketemu wajah derita yang serbagelap, menyakitkanmenakutkan, hukuman Tuhan.Itu sebabnya di ajaran Sufi, ada cerita seorang wanita yang menulis puisi begioni, “Ya, Tuhan, kalau saya mencintai-Mu karena saya rindu sama surgamu, jauhkan saya dari surga. Kalau saya takut sama Kamu karena saya takut sama neraka-Mu, masukkan saya ke neraka. Tapi Tuhan izinkan saya melihat wajah-Mu”. Ini artinya, surga-neraka sudah lewat bagi dia. Tapi, surga-neraka bisa terlewati kalau kita bisa ikhlas di depan Tuhan. Sederhana, tapi perjuangan untuk mencapai keikhlasan itu perlu disiplin diri yang panjang. Selain keikhlasan, kita juga harus memiliki kesadaran untuk membaca tanda-tanda Tuhan di balik setiap derita atau bencana yang kita alami. Saya selalu bilang kepada banyak sahabat, dalam setiap kejadian selalu ada sidik jari Tuhan. Jangankan bencana besar. Daun jatuh saja ada makna Tuhan. Seringkali tatkala penderitaan itu datang, kita terlalu tenggelam dalam kesedihan, lupa untuk membaca tanda-tanda Tuhan. Itu sebabnya sejumlah guru meditasi mengatakan kalau Anda sakit, itu kesempatan meditasi luar biasa. Dengan kata lain, apa yang disebut kesedihan, derita apa lagi, sebetulnya pintu Tuhan sedang terbuka lebih lebar dari biasanya. Sayangnya kita tak menengok ke dalam, kita terlalu terfokus kepada kesedihan. 

Bali pernah kena tragedi peledakan bom 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 lalu yang juga dapat disebut sebagai sebuah bencana akibat ulah manusia. Bagaimana memandang tragedi itu dalam konteks derita sebagai penyucian diri?
Khusus untuk tragedi peledakan bom 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005, ada makna mendalam yang bisa kita renungkan. Tragedi itu bisa digambarkan sebagai saat ketika kita dicaci, bahkan rumah kita dihancurkan. Namun, pada saat yang sama kita tidak membalas. Saat yang sama kita tidak melukasi balik. Yang menang itu saya kira bukan orang Kuta, bukan orang Bali, tetapi yang menang adalah dharma. Karena itu, saya usulkan agar monumen di lokasi ledakan bom dinamai Monumen Kemenangan Dharma. Dengan memberi nama Monumen Kemenangan Dharma, generasi berikutnya akan bisa belajar banyak dari tragedi kemanusiaan itu. Saya yakin banyak generasi akan bisa diselamatkan dari kekerasan. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.