Terkini

Bedahulu dan Penundukan lewat Teks

Suatu hari, Raja Sri Tapolung, Raja Bali Kuno terakhir, bertamasya ke daerah Batur diiringi patih Ki Pasung Grigis. Tiba di Panelokan, sang raja diuji oleh sang patih. “Paduka, jika paduka benar sakti dan dapat melepaskan jiwa dari raga, mohon tunjukkanlah pada hamba!” kata Ki Pasung Grigis. Permohonan Ki Pasung Grigis dikabulkan. Sang raja pun bersemadi. Beberapa saat kemudian, kepala sang raja lepas dari raganya. Kepala Sri Tapolung diceritakan melesat ke surga. Ki Pasung Grigis kini hanya menghadapi badan rajanya tanpa kepala.


Pura Jero Agung di Desa Bedulu yang dikaitkan dengan Raja Bedahulu
Setelah lewat tiga hari, kepala Sri Tapolung belum kembali juga. Ki Pasung Grigis mulai khawatir. Kebetulan saat itu ada seekor babi lewat. Babi itu pun dipenggal dan kepala babinya itu disatukan dengan raga Sri Tapolung. Tak dinyana, beberapa saat kemudian kepala Sri Tapolung kembali. Mengetahui kepalanya diganti dengan kepala babi, sang raja pun murka dan mengutuk orang-orang Bali Aga. Karena berkepala babi, sang raja kemudian dijuluki Bedahulu atau Bedamuka (beda kepala).

Mitologi ini masih tertanam kuat di kalangan masyarakat Bali hingga kini. Mitos raja berkepala babi ini memang kerap diceritakan sebagai dongeng atau pun cerita dalam suatu pementasan drama tradisional.


Penikmat teks kemudian menginterpretarikan cerita Raja Bedahulu ini secara lebih kritis. Cerita raja berkepala babi ini dipersepsikan sebagai simbolisasi dari sikap Raja Bali Kuno terakhir itu yang tidak mau mengakui supremasi kekuasaan Majapahit. Sang raja ingin menempatkan Bali sebagai kerajaan berdaulat dan merdeka, terbebas dari cengekeraman kekuasaan luar.


Interpretasi ini kemudian didukung dengan hasil penelitian para sejarawan dan arkeolog. Dalam sejumlah sumber-sumber Bali Kuno, Raja Sri Tapolung disebut-sebut sebagai raja yang kuat, bervisi, disegani dan dihormati rakyatnya. Raja ini diberi gelar sebagai Sri Asta Sura Ratna Bhumi Bhanten, penguasa Bali yang memiliki delapan kekuatan dewa.


Sikap inilah yang dipandang Majapahit berbahaya bagi ambisi kerajaan itu menguasai Nusantara. Karenanya, Bali kemudian dijadikan target utama untuk ditundukkan. Melalui tipu muslihat sang patih Gajah Mada, Bali berhasil ditaklukkan.


Penaklukan oleh Majapahit tidak serta merta membuat rakyat Bali Kuno mengakui kekuasaan Majapahit di Bali. Malah sebaliknya, gelombang perlawanan tiada surut di pulau mungil ini. Hingga akhirnya terjadi negosiasi politik antara penguasa Majapahit dengan orang-orang Bali Aga untuk memadamkan perlawanan.


Namun, Majapahit tampaknya menyadari benar, kecintaan rakyat Bali terhadap rajanya yang terakhir masih sangat dalam. Karenanya, diproduksilah teks baru untuk mengubah persepsi baru rakyat Bali Kuno terhadap rajanya yang telah ditundukkan. Setelah ditundukkan dengan pasukan, Raja Bali Kuno kini ditundukkan dengan teks. Bahkan, teks baru itu pun dilegitimasi dengan mengambil simbol-simbol dan perangkat-perangkat keagamaan.


Politik penundukan lewat teks memang menjadi salah satu upaya ampuh bagi penguasa baru yang tak ingin berada dalam bayang-bayang kegemilangan penguasa yang ditumbangkannya. Penguasa baru akan berusaha membuat sejarahnya sendiri lewat teks dengan menempatkan dirinya sebagai protagonis sedangkan penguasa sebelumnya sebagai antagonis.


Politik penundukan lewat teks tidak saja terjadi dalam konteks kekuasaan negara, tetapi juga dalam aspek lain kehidupan sosial masyarakat Bali. Lahirnya teks-teks tentang manak salah, asupundung, atau pun alangkahi karang hulu merupakan bentuk penundukan satu kelompok atas kelompok lainnya –kelompok bangsawan atas kelompok rakyat kebanyakan— melalui teks. Dengan menggunakan simbol-simbol dan perangkat-perangkat agama, adat dan budaya, penundukan itu menjadi semakin kuat. Bahkan, ironisnya, kelompok yang ditundukkan tiada merasa ditundukkan. Sampai titik tertentu malah menyerah dengan nikmat.


Karena itu, sebuah teks, dari zaman mana pun, hendaknya didekati secara kritis. Sangat berbahaya jika sebuah teks diposisikan sebagai sesuatu yang sangat sakral, yang tak bisa dipertanyakan. Teks, betapa pun, pada hakikatnya adalah sebuah produk manusia yang tidak bebas nilai. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.