Terkini

Warga Sangeh Pantang Tebang Pohon di Alas Pala

Teks dan Foto: I Made Sujaya

BUKAN hanya di Alas Kedaton, Desa Kukuh, Margam Tabanan, di Alas pala, Desa Sangeh, Badung juga terdapat tradisi berpantang menebang pohon dan mengganggu kera. Kawasan yang juga berkembang menjadi objek wisata khas dengan kera berekor panjang itu amat disucikan warga. Secara turun-temurun warga setempat mewarisi sekaligus menjaga keyakinan untuk pantang menebang pohon di areal hutan pala itu. Bila dilanggar, bencana dipercaya bakal menghinggapi. Tak hanya itu, masuk areal hutan pun warga tiada berani bila dirinya cuntaka, sebel atau kotor.



Desa Sangeh kini telah dikenal sebagai salah satu objek wisata dengan ciri khas kera berekor panjang (Macaca faciculais) plus hutan luas dengan tumbuhan homogen : pohon pala (Dipterocarpustrinervis). Saban hari wisatawan baik asing maupun Nusantara mengunjungi hutan seluas 14 hektar itu hanya untuk menyaksikan tingkah polah sang monyet yang jumlahnya diperkirakan 600-an ekor itu. Selain,yang tak kalah menariknya, menikmati suasana hutan pala yang sejuk nan asri.

Namun, jarang yang tahu, keasrian plus kelestarian Alas Pala merupakan buah dari mitos atau keyakinan yang berabad-abad dipegang teguh masyarakat Desa Sangeh. Warga desa ini tiada berani mengganggu keutuhan ekosistem Alas Pala. Pantang bagi mereka untuk menebang kayu dari pepohonan yang da di kawasan hutan itu.


“Kalau ada yang berani menebang pepohonan di Alas Pala apalagi pohon pala, dia pasti tidak akan selamat,” tutur Bendesa (tetua adat) Adat Sangeh, Drs. IB Dipayana.


Boleh saja bila ada warga yang ingin meminta kayu pohon pala. Misalnya, kayu yang disebut-sebut jenis nomor dua terbaik itu bakal digunakan untuk pembangunan kahyangan (tempat suci) seperti merajan, sanggah (tempat suci di rumah) atau pura. Memang, kata Dipayana, untuk keperluan yang berkaitan dengan hal-hal yang suci, dibolehkan. Namun, warga tak serta merta boleh menebang pohon pala di Alas Pala. Mesti ditunggu dulu adanya batang pohon pala yang tumbang dengan sendirinya setelah matur pakeling (minta izin dengan jalan menghaturkan sesaji) di Pura Bukit Sari yang berada di dalam hutan.


“Biasanya berselang tiga hari setelah matur pakeling di Pura Bukit Sari, ada saja pohon pala yang tumbang. Pohon yang tumbang itulah yang diberikan kepada si pemohon, bukan menebang langsung,” kata Dipayana.

Begitu pula terhadap monyet-monyet di Alas Pala warga Sangeh tak berani mengusiknya. Seperti halnya pohon pala, kera-kera ini juga dikeramatkan. “Boleh dibilang warga di sini mendewakan kera di hutan ini,” kata Made Sumohon, Manager Pengelola Objek Wisata Sangeh.

Tak hanya itu, warga desa ini juga pantang masuk ke areal hutan bila dirinya dalam keadaan cuntaka, sebel (ada kematian dalam keluarga, wanita baru habis melahirkan serta wanita haid) atau kotor. Larangan ini juga berlaku bagi setiap wisatawan yang ingin mengunjungi tempat itu.

"Jika ada yang berani masuk dalam kondisi kotor, orang itu bisa tertimpa ranting pohon atau ditarik-tarik monyet. Ini sudah pernah menimpa salah seorang pengunjung dari luar Bali,” tutur IB Nyoman Purna, Pemangku Pura Bukit Sari.

Tak cuma pantangan ini kearifan yang ditunjukkan warga Sangeh. Sejak lama pula warga desa ini terbudaya menjaga kebersihan Alas Pala secara bergiliran, rapi dan teratur. Setiap bulan, masing-msing banjar di Desa Adat Sangeh berkewajiban ngayah nyapuh (membersihkan) areal Alas Pala. Ini dilakukan pagi-pagi buta mulai pukul 05.00. Bila dalam waktu ngayah satu banjar ada warga banjarnya yang meninggal sehingga seluruh banjar kena kecuntakan, ayahan nyapuh (tugas membersihkan) dialihkan ke banjar lainnya selama masa kecuntakan berlangsung.

“Nanti, banjar yang telah digantikan ngayah itu akan menggantikan pula ayahan banjar yang telah menggantikannya selama rentang waktu mereka kecuntakan dulu. Misalnya, Banjar Pemijian absen ngayah karena kecuntakan selama tiga hri sehingga digantikan oleh Banjar Muluk Babi. Nanti, pada saat giliran ngayah Banjar Muluk Babi, selama tiga hari itu pula Banjar Pemijian menggantikan,” tutur Dipayana.

Tiada jelas apa yang mendasari tumbuhnya keyakinan warga Sangeh semacam ini. Dalam awig-awig desa adat pun hal ini tak tersurat. Namun, kata Dipayana, sejak dulu pihaknya memang sudah nami (mewarisi) kepercayaan itu secara turun-temurun. Dan warga Sangeh tiada berani melanggarnya, hingga kini.

Barangkali karena inilah, Alas Pala meninggalkan warisan pohon pla yang berumur ratusan tahun. Menurut Made Sumohon, di Als Pala terdapat pohon pala berumur 350 tahun. Pohon tua ini msih kokoh berdiri tidak jauh dari Pura Bukit Sari. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.