Terkini

Warga Budaga Pantang Pelihara Kuda


Teks dan Foto: I Made Sujaya

Warga Desa Pakraman Budaga, Klungkung hingga kini tiada berani memelihara kuda. Tak diketahui secara jelas penyebabnya. Namun, cerita lisan yang berkembang menyebutkan adanya ancangan sesuhunan (para penjaga desa yang tak tampak oleh mata telanjang) di desa ini ada yang berwujud kuda sehingga warga tiada diperkenankan memelihara kuda lagi.

Cukup unik, memang. Desa yang terletak di tengah kota ini, sekitar 1 km arah barat kota Semarapura, ternyata masih menyimpan kepercayaan semacam itu.

Seperti halnya di desa-desa lainnya yang berpantang memelihara hewan tertentu, pantangan memelihara kuda di Budaga juga tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Warga setempat hanya mewarisi cerita turun-temurun dari pendahulunya bahwa ancangan sesuhunan Ida Batara di desa tersebut ada yang berwujud kuda, sehingga warga tiada dibolehkan memelihara hewan tersebut.


“Hanya begitu yang kami ketahui dari penuturan para penglingsir (tokoh tua desa). Kalau ditanya alasan pasti dan ilmiahnya, kami sendiri juga belum menemukannya,” kata Penglingsir Desa Budaga, I Wayan Bawa.


Konon, apabila ada warga Budaga yang memelihara kuda di rumahnya bisa terkena bahaya. Paling tidak, kuda yang dipelihara akan rusuh. Malah, si pemilik bisa jatuh sakit.


Pernah suatu kali, seperti diceritakan salah seorang Kelian (ketua adat) Desa Pakraman Budaga, I Nengah Deresta, ada salah seorang warga Budaga yang memelihara kuda. Si pemilik memelihara kuda untuk digunakan menarik dokar.


“Namun, kuda yang dipelihara di rumahnya itu tidak tenang, selalu meloncat-loncat dan meringkik tiada putus. Kuda tersebut lama-kelamaan mati,” tutur Deresta.


Setelah kejadian itu, warga Budaga kemudian diingatkan kembali tentang tutur para tetua desa di masa lalu mengenai pantangan memelihara kuda. Pengalaman buruk salah seorang warga itu meyakinkan warga Budaga bahwa secara niskala mereka memang tak dibolehkan memelihara kuda.


Sulit diterima akal sehat, memang, munculnya pantangan memelihara kuda di Desa Budaga ini. Namun kenyataannya manakala ada warga yang memelihara kuda, kejadian buruk memang terjadi. Ini seolah memperkuat keyakinan bahwa pantangan itu memang dititahkan secara niskala.


Akan tetapi, ada yang menyebut trauma atas kejadian gagalnya memelihara kuda yang dialami warga itulah yang memunculkan keyakinan warga untuk tidak memelihara hewan tersebut. Dari rasa trauma itulah kemudian menguat menjadi keyakinan yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun. (b.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.