Home » , » Tenganan Pagringsingan yang Teguh Menjaga Tradisi

Tenganan Pagringsingan yang Teguh Menjaga Tradisi

Diposkan Oleh balisaja.com Pada Selasa, 11 Desember 2007 | 14.56


Teks dan Foto: I Made Sujaya 

Ketika membincang tentang kebudayaan masyarakat Bali Aga, orang biasanya tak akan lupa menengok sebuah desa kuno di wilayah Kabupaten Karangasem ini. Di antara sejumlah desa-desa Bali Aga yang masih bertahan, Tenganan Pegringsingan memang tergolong masih cukup berhasil menjaga keasliannya. Karenanya, Tenganan Pegringsingan pun kerap menjadi ikon dalam perbincangan mengenai kebudayaan masyarakat Bali Aga.

Gadis cilik Tenganan Pagringsingan mengenakan kain gringsing.
Orang sudah terlampau mengenal Tenganan Pegringsingan, memang. Terlebih lagi desa ini ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem sebagai salah satu objek wisata andalan. Karenanya, saban hari wisatawan, baik domestik maupun mancanagera mengunjungi desa ini.

Orang yang hendak mengunjungi desa ini dari Denpasar mesti menempuh perjalanan sekitar 70 kilometer ke arah timur. Tiba di Candi Dasa, Anda belok menuju ke utara sekitar 3 kilometer. Setelah melewati Desa Pesedahan Anda akan melihat papan ucapan selamat datang di Desa Tenganan.

Tenganan Pegringsingan sejatinya satu di antara sejumlah desa pakraman yang masuk dalam wilayah pemerintahan dinas Desa Tenganan. Desa-desa pakraman lainnya yakni Tenganan Dauh Tukad, Gumang, Bukit Kangin dan Bukit Kauh. Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan sendiri terdiri dari tiga banjar yakni Banjar Kauh di bagian barat, Banjar Tengah di tengah-tengah serta Banjar Kangin/Pande di bagian timur.

Desa Tenganan Pegringsingan berada di sebuah lembah dan diapit oleh bukit dengan luas wilayah mencapai 917.200 ha. Karena letaknya seperti itu, Desa Tenganan Pegringsingan dibuat berundak atau terasering dengan posisi makin ke selatan makin rendah. Tujuannya tentu saja untuk menghidari kikisan air hujan. Di dalam desa juga dibuat saluran limbah atau utilitas lingkungan yang terencana dengan baik seperti adanya boatan, teba pisan dan paluh menuju sungai.


Pemukian di desa ini berpetak-petak lurus dari utara ke selatan dengan luas pekarangan yang sama yakni 2,342 are. Masing-masing rumah dihuni satu keluarga. Tiap-tiap leret rumah dibelah oleh sebuah jalan tanah yang disebut sebagai sebagai awangan. Awangan ini dibatasi oleh sebuah sekolan air.


Ada tiga awangan di desa ini. Ada awangan barat, awangan tengah dan awangan timur. Awangan tengah dan timur lebih kecil, kira-kira setengah dari lebar awangan di barat. Awangan barat kerap menjadi pusat keramaian tiap kali dilaksanakan upacara keagamaan atau adat.


Struktur pembagian tata ruang desa mengikuti konsep Tapak Dara yakni pertemuan antara arah angin kaja-kelod (utara-selatan) yang merupakan simbol segara-gunung (laut-gunung) dan arah matahari kangin-kauh (timur-barat). Pertemuan kedua arah itu dipersepsikan sebagai perputaran nemu gelang (seperti lingkaran) dengan porosnya berada di tengah-tengah. Orang Tenganan Pegringsingan mengenalnya dengan istilah maulu ke tengah atau berorientasi ke tengah-tengah. Maknanya, mencapai keseimbangan melalui penyatuan bhuwana alit (manusia dan karang paumahan atau pekarangan rumah) dengan bhuwana agung (pekarangan desa).


Perkampungan dikelilingi tembok bak benteng pertahanan. Lawangan atau pintu masuk desa berada di keempat penjuru. Orang Tenganan Pegringsingan menyebut konsep penataan ruang desanya itu sebagai Jaga Satru (berjaga dari serangan musuh).


Penduduk Desa Adat Tenganan Pegringsingan hingga tahun 2005 tercatat 215 kepala keluarga (KK) atau 661 jiwa. Umumnya masih berpendidikan SD dan SMP. Namun, sudah banyak juga warga Tenganan Pegringsingan yang mengenyam pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana.


Aktivitas keseharian warga Tenganan Pegringsingan yakni bertani atau pun menekuni usaha kerajinan. Tenganan Pegringsingan memiliki lahan tegalan yang cukup luas yakni 583,035 ha (sekitar 66,41 persen dari luas desa) serta lahan sawah seluas 255,840 ha (25,73 dari luas desa). Lahan itu ada yang digarap sendiri, tetapi umumnya digarap oleh orang luar dan warga Tenganan Pegringsingan hanya menerima hasilnya.


Usaha kerajinan yang ditekuni orang Tenganan Pegringsingan berkaitan erat dengan keberadaan desa ini sebagai desa wisata. Ada yang menenun dengan produksi unggulan kain geringsing, ada yang membuat atta, membuat lontar serta aneka cenderata untuk wisatawan.

Kain Gringsing

Ciri khas Desa Tenganan tentu saja kain tenun ikat yang disebut kain gringsing. Karena itu pula, nama desa ini lebih dikenal dengan Desa Tenganan Pegringsingan. Ini untuk membedakannya dengan Desa Tenganan Dauh Tukad atau pun Tenganan sebagai desa dinas.

Tidak diketahui secara pasti kapan kain gringsing mulai muncul di Tenganan Pegringsingan. Tiada diketahui pula siapa yang pertama kali memperkenalkan kerajinan menenun kain ini di Tenganan Pegringsingan.

Yang jelas, menurut Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Tenganan, I Nyoman Nuja, kain gringsing mengandung makna sebagai semacam penolak bala. Ini jika dlihat dari kata gringsing yang berasal dari kata gering yang artinya ‘wabah’ dan sing yang artinya ‘tidak’. Dengan begitu gringsing berarti ‘terhindar dari wabah’.

Namun, Nuja menduga, pada masa kerajaan Bali Kuna dulu kain gringsing diproduksi juga di daerah-daerah lainnya. Hanya saja, hingga saat ini hanya di Tenganan kerajinan tenun kain ini masih terjaga.

Kain gringsing ini sendiri terbilang unik, otentik dan kini amat langka. Benang yang dipakai untuk menenun kain ini berasal dari kapas Bali asli. Selain bahannya yang langka, proses pembuatan kain ini juga terbilang amat rumit. “Bisa dibutuhkan waktu sampai sepuluh tahun untuk bisa menghasilkan selembar kain gringsing berkualitas bagus,” tutur Nuja.

Mula pertama, kapas Bali dipintal menjadi benang. Kemudian, benang itu dibalutkan lalu dicelup untuk mendapatkan warna-warna tertentu. Pewarnaannya sendiri menggunakan warna alam. Warna kuning sebagai warna dasar dibuat dari minyak kemiri. Setelah itu, benang kembali dililitkan untuk dibuat warna biru dari taum (indigo). Setelah berwarna biru, benang itu direndam ke pewarna merah yang terbuat dari akar sunti –satu tanaman yang hanya bisa tumbuh bagus di Nusa Penida— dan kihip selama tiga hari. Selanjutnya, dicuci dan dijemur minimal tiga bulan. Proses ini kembali diulang-ulang hingga tercapai warna yang sebagus-bagusnya dengan warna terakhir yakni hitam. Proses pewarnaan inilah yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Menurut Penglingsir Desa Adat Tenganan Pegringsingan lainnya, Jro Mangku Widia, ada sejumlah motif kain gringsing yakni lubeng, wayang putri, wayang kebo, cecempakan, cemplong, dingding sigading, dingsing ai, pepare, pat likur, pedang dasa, semplang, cawet, anteng dan lainnya. Motif-motif itu sendiri penuh dengan simbol-simbol seperti tapak dara (tanda silang) dan lainnya.

Karena proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama, harga selembar kain gringsing pun sangat mahal. Untuk ukuran selendang saja harganya sekitar Rp 350.000. Bila lebih lebar lagi, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Kain gringsing saya yang sudah robek-robek saja harganya mencapai Rp 25.000.000. Kalau yang utuh, pasti lebih mahal,” tutur Nuja.

Kain gringsing kerap digunakan sebagai pakaian adat saat upacara berlangsung. Saat Usaba Sambah yang jatuh tiap bulan kelima menurut penanggalan Tenganan –biasanya jatuh pada bulan Juni-Juli—para daha teruna (muda-mudi) wajib mengenakan kain gringsing. Kain gringsing inilah yang membuat para generasi muda Tenganan itu tampak bersahaja saat menari Rejang Abuang. (b.)
Bagikan Artikel Ini :

+ komentar + 5 komentar

Anonim
Senin, 01 Desember 2008 19.49.00 WITA

Bli, dari mana sumber datanya nih.. Aku kuliah di Teknik Udayana jurusan Informatika. Lagi buat tugas akhir, judulnya Mobile Commerce Kain Gringsing..
Jadi aku mau ambil posting tentang Desa Tenganan ini maunya dimasukkan di BAB II Tinjauan Pustaka.. Tolong balasannya secepatnya. Di muat di blog ini ja kl gk tolong email ke randy19860424@yahoo.com.
Suksema..

Selasa, 24 Maret 2009 06.06.00 WITA

Mau menanyakan bagaimana sih kegiatan penduduk tenganan dalam melestarikan hutan, apakah ada larangan larangan tertentu yang di percaya bila memotong pohon akan ada balasannya atau tidak boleh membawa hasil huta keluar hutan itu?..
di tunggu balasannya segera ya, makasih. saya butuh buat tugas akhir pada tangga 27 maret 2009 nanti.
mr.hascat@hotmail.com

Rabu, 07 April 2010 22.01.00 WITA

mau tanya mengenai,penduduk bali aga sepengetahuan saya adalah penduduk asli bali, yg bkn berasal dari keturuna majapahit kan?
lalu bgmn nama2 org bali aga apakah berbeda dgn org bali majapahit yg bernama gde,nyoman,ketut, dll?
lalu apakah ada legenda mengenai kuda bernama si PULE? yg artinya betulkah the prince? tolong di jwb ya...thanks...

Rabu, 03 November 2010 16.18.00 WITA

wahhh,,, gag sabar pengen berkunjung ke desa tenganan. saya tertarik sama sistem pengolahan limbah dan tatanan rumah serta kependudukannya. keren haha :D

Anonim
Selasa, 24 Juli 2012 11.46.00 WITA

terima kasih karena sudah membuat artikel ini. saya sebagai anak tenganan pegringsingan merasa sangat bangga karenanya. \(^,^)/

desysuar@ovi.com

Poskan Komentar

Ikuti Kami di Facebook

 
Beranda | Tentang balisaja.com | Pengasuh | Iklan | Peta Situs
Hak Cipta © 2007. balisaja.com - Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Template Dimodifikasi Oleh balisaja.com Terima Kasih Kepada Mas Template
Diberdayakan Oleh Blogger