Terkini

Sudahi Menyakiti Ibu Bumi Sampai di Sini!

BERUNTUNGLAHTeks: I Made Sujaya

Bali dipilih sebagai tuan rumah pelaksanaan Konferensi Perubahan Iklim Dunia yang secara resmi dibuka Senin, 3 Desember 2007. Sungguh, keberuntungan itu bukan karena Bali kebanjiran tamu asing serta hotel-hotel penuh dipesan para delegasi, tetapi jauh lebih bermakna dari itu, Bali mendapatkan momentum untuk menelisik kembali kebijakan, tradisi dan laku nyata menyelamatkan alam, memperlakukan Ibu Bumi.

Ya, Ibu Bumi! Konferensi yang dihadiri sekitar 10.000 delegasi itu sejatinya memang membincangkan tentang Ibu Bumi. Konferensi yang dihadiri 168 negara itu merupakan bentuk pertobatan bersama karena telah tulah (kualat) kepada Ibu Bumi. Seabad terakhir, kita, manusia sebagai anak-anaknya telah begitu congkak mencabik-cabik Ibu Bumi. Ketika kita akhirnya mengalami ketidaknyamanan hidup, senantiasa diusik bencana, digerogoti aneka penyakit mematikan, barulah kita bersimpuh di kaki Ibu Bumi memohon ampun dan berharap bisa menikmati kembali kesejukan cinta, kasih dan sayang Ibu Bumi.


Manusia Bali sudah sejak lama diingatkan tentang betapa besarnya cinta, kasih dan sayang Ibu Bumi. Karenanya, manusia Bali senantiasa pula diingatkan untuk menjaga dan merawat Ibu Bumi dengan penuh ketulusan dan kejujuran.

Dalam tradisi Bali, jasa Ibu Bumi sangatlah besar, setara dengan jasa sang Ibu biologis. Ibu Bumilah yang menopang hidup dan kehidupan ini. Ibu Bumi juga begitu sabar melayani segala keinginan-keinginan manusia.


Karena itulah, manusia Bali diajarkan untuk berterima kasih secara tulus kepada Ibu Bumi. Hari suci Tumpek Pengatag dan Tumpek Kandang merupakan ungkapan rasa terima kasih manusia Bali kepada Ibu Bumi. Sungguh manusia tidak bisa hidup tanpa ditopang oleh tetumbuhan dan hewan. Dengan adanya tumbuh-tumbuhan dan binatanglah, manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya baik sandang, papan maupun pangan.


Dari konsep berhutang kepada alam itulah kemudian dikenal ritual tawur atau caru yang dilaksanakan manusia Bali tiap tahun menjelang hari raya Nyepi. Tawur memang mengandung pengertian mengembalikan atau membayar utang (tawur dalam bahasa Bali artinya membayar), sedangkan caru berarti mengharmonikan atau menyeimbangkan.


Nyepi juga sebagai bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kepada Ibu Bumi. Pada hari itu, kita biarkan Ibu Bumi beristirahat tenang, sekali dalam setahun. Kita bebaskan Ibu Bumi dari segala tindak kecongkakan kita.


Namun, tradisi-tradisi kaya makna itu tidak pernah mengalir sampai ke laku nyata sehari-hari. Tradisi-tradisi itu berhenti sebatas ritual. Kita tetap saja tidak pernah berhenti menyakiti Ibu Bumi. Kita hormati Ibu Bumi dengan persembahan sesaji berbiaya mahal, tetapi pada saat yang sama kita tebangi pohon-pohon di tengah hutan untuk ditanami dengan tanaman produktif agar pundi-pundi kita terus terisi. Kita beri kesempatan Ibu Bumi beristirahat tenang sekali setahun di hari Nyepi, tetapi bertahun-tahun kita biarkan para kapitalis mengkapling pantai-pantai kita yang indah, kita biarkan para investor mengobrak-abrik daerah hulu yang kita sucikan.


Kini pun, manakala kita menjadi tuan rumah konferensi dunia membincang Ibu Bumi, kita tetap saja berlaku congkak paradoks. Kita bangga sebagai tuan rumah bukan karena memandangnya sebagai momentum untuk berbenah laku untuk berhenti menyakiti Ibu Bumi, tetapi lebih karena kita melihat keuntungan materi dari kunjungan para delegasi yang mencapai 10.000 orang. Kita, manusia Bali, lebih suka memikirkan cerah berbinarnya kembali pariwisata setelah konferensi sukses digelar. Untuk menutupi kecongkakan kita, kita pun berpura-pura merawat Ibu Bumi dengan berlomba-lomba menanam pohon, tetapi tidak mencoba menanam pohon kesadaran dalam diri untuk sungguh-sungguh penuh cinta, kasih dan sayang menjaga dan merawat Ibu Bumi.
Oh, Ibu Bumi, maafkan kami!

* I Made Sujaya

(Diambil dari
Bali Post Minggu, 2 Desember 2007, halaman 15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.