Terkini

Saraswati, Hari Aksara Gaya Bali


Masyarakat dunia boleh berbangga memeringati 8 September sebagai hari aksara internasional. Namun, jauh sejak bearabad-abad silam orang Hindu-Bali telah mewarisi tradisi hari aksara saban 210 hari sekali yakni hari suci Saraswati. Saat itulah, orang Bali memuliakan aksara dalam segala wujudnya.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan hari suci Saraswati merupakan saat untuk memuja Sanghyang Aji Saraswati sebagai manifestasi Hyang Widhi yang menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia.

Saat hari suci Saraswati, segala macam pustaka sebagai lingga aksara diupacarai. Lontar Sundarigama juga memberikan pantangan bagi umat untuk menulis aksara, membaca, menulis, mambaca kidung kekawin. Saat hari suci Saraswati umat dianjurkan untuk melaksanakan renungan suci dan beryoga.

Bagi orang Bali, aksara tidak semata dimaknai secara sempit sebagai goresan huruf. Namun, lebih dari itu, aksara merupakan representasi dari ilmu pengetahuan yang lazim disebut sastra.


Kembali ke Rumah Sastra

Saat masa senja sudah tiba, adalah saat-saat manusia Bali menengok kembali dunia sastra. Maka, betapa pun suksesnya orang Bali, ketika kembali pulang ke desa, apa pun pangkat, jabatan dan statusnya, pada benaknya menyelusup diam-diam rasa malu jika berpaling dari sastra. Paling tidak, ada keinginan untuk ikut nimbrung sekadar ikut makekidung, makekawin ketika piodalan atau upacara keagamaan digelar di desa.

Sampai akhirnya, kerinduan untuk sekadar berteduh di rumah sastra itu berbiak menjadi kerinduan untuk ngijeng, kerinduan untuk menjaga. Lantaran perasaan telah terjaga di dalam teduhnya rumah sastra. Bukankah sekarang tanda-tanda zaman telah juga terbetik sekaligus sebagai isyarat, pabila zaman telah memasuki zaman kali, bernaung dan masuklah ke rumah sastra, itulah satu-satunya jalan agar ‘’selamat’’ sampai ke ‘’rumah sejati’’.

Karena itulah, manusia Bali (Hindu) senantiasa diingatkan untuk tidak mencela sastra. Maka, begitu, perayaan hari suci Saraswati tiba, pesan untuk tidak ngucek sastra kembali bergema.

Teramat sederhana barangkali pesan yang memang sederhana itu. Namun, sejatinya amat tidak sederhana makna yang hendak disampaikan.

Ngucek sastra tak sebatas ngucek buku atau pun lontar. Namun, jauh menyelusup di dalamnya pesan untuk senantiasa menghormati sastra itu sendiri. Ngucek atau pun mencela sastra adalah mencela hidup, karena sastra adalah cerminan kehidupan, bahkan jauh lebih dari sekadar cerminan. Sastra adalah juga sasuluh, sinar yang menerangi hidup dan kehidupan ini.

Sastra adalah juga air yang mengalir sebagaimana pengertian Saraswati itu sendiri. Saraswati mengandung pengertian air yang tiada henti mengalir. Di India sendiri, Saraswati selain nama dewa adalah juga nama sebuah sungai yang disucikan.

Sastra adalah juga wanita cantik seperti halnya penggambran para rsi terhadap Dewi Saraswati. Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang bertangan empat.

Bila begini, maka menjadi amat jelas betapa sastra memang tak layak untuk dijauhi. Seperti halnya ketidaklayakan untuk menjuhi air, menjauhi wanita cantik. Menjuhi air, menjauhi wanita cantik adalah juga menjuhi sumber dari kehidupan ini.

Betapa pentingnya sastra, seperti betapa pentingnya air dan wanita itu. Karenanya, mankala kita menjauh darinya, tiba-tiba menyelusup kerinduan untuk kembali kepadanya. Kembali ke rumah sastra. Orang-orang tua di desa dengan bahasa sederhana senantiasa berpesan, selegang melajah sastra, tekunlah belajar sastra, belajar kehidupan.

Sebagai hari aksara, Saraswati semestinya dijadikan momentum untuk menengok kembali kebijakan pendidikan di negeri ini. Selamat Hari Raya Saraswati!

Teks dan Foto: I Made Sujaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.