Terkini

14 Penulis Bali Terima Widya Pataka

SEBANYAK 14 penulis buku Balimenerima penghargaan Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali. Penghargaan itu diserahkan Selasa, 27 November 2007 lalu di aula Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Renon, Denpasar. Keempat belas penulis itu dianggap sebagai insan Bali yang berbakat, mampu melahirkan karya-karya berkualitas, sekaligus memiliki komitmen yang kuat dan mendorong pelestarian seni dan budaya Bali melalui buku.
Siapa saja 14 penulis Bali penerima Widya Pataka itu?
Ke-14 penerima penghargaan Widya Pataka antara lain AA Sagung Mas Ruscitadewi dengan buku Penari Sanghyang (kumpulan cerpen), Wayan Kun Adnyana dengan buku Nalar Rupa Perupa (kumpulan esei seni rupa), I Made Sujaya dengan buku Perkawinan Terlarang: Pantangan Berpoligami di Desa-desa Bali Kuno (laporan jurnalistik), Wayan Sunarta untuk buku Impian Usai (kumpulan puisi), Nyoman Sukaya Sukawati dengan buku Mencari Sorga di Bom Bali (kumpulan esei), Drs Made Taro dengan buku Dongeng-dongeng Sepanjang Abad (kumpulan dongeng), Nyoman Wirata dengan buku kumpulan puisi berjudul Merayakan Pohon di Kebun Puisi, Drs I Gusti Ketut Tribana dengan buku Desas-desus Seks dalam Pendidikan (kumpulan artikel dan esei pendidikan), Kadek Suartaya S.S.Kar.M.Si dengan buku Seni dan Ritus Pertunjukan Bali (kumpulan esei seni), Made Adnyana Ole dengan buku Padi Dumadi (kumpulan cerpen), Drs. I Nyoman Tingkat dengan buku Berguru dalam Jejak Sastra (kumpulan esei sastra dan pendidikan), Prof. I Made Nitis dengan buku Budidaya Gamal di Lahan Kering (hasil penelitian), Drs. I Ketut Wiana dengan buku Sembahyang Memuja Tuhan dengan Sembilan Bentuk Bakti) dan Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U. dengan judul buku Sampradaya: Kelompok Belajar Wedha, Aliran dalam Agama Hindu dan budaya Bali.
Gubernur Bali, Drs. Dewa Made Beratha dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Sekprop Bali, Drs I Gede Wardhana pada acara penyerahan penghargaan menyatakan Gubernur menyambut baik kegiatan yang sangat positif itu, meskipun pertumbuhan dunia penerbitan karya cetak dan karya rekam (KCKR) di Bali masih perlu ditingkatkan. Karya cetak dan karya rekam, khususnya buku, memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, sekaligus media pelestarian seni budaya Bali.
Gubernur Berata juga menyatakan tidak sedikit dijumpai pengarang Bali bersusah payah memodalii untuk mencetak, menjilid dan memasarkan karyanya sendiri. Karena itu, Pemprov Bali menghargai pengabdian para penulis buku tersebut dengan memberikan penghargaan Widya Pataka. Diharapkan, para penulis buku itu akan terus menulis dan menerbitkan buku-bukunya.
Menurutnya, penghargaan Widya Pataka kepada penulis dan pengarang buku sebagai ungkapan terima kasih kepada mereka yang menunjukkan kegigihan dan komitmen intelektualitas kepada daerah Bali. Penghargaan tersebut hendaknya dapat mendorong untuk terus berkarya menyumbangkan pemikiran dan pandangan terhadap perkembangan seni budaya Bali lewat penulisan buku-buku.
Penghargaan yang dimotori Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali ini diisi dengan empat kegiatan terintegrasi masing-masing pemberian penghargaan Widya Pataka kepada penulis buku, forum penerbit KCKR, apresiasi dan bedah buku.
Kepala Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali, Albiner Silaen mengatakan dunia perbukuan di Bali belakangan sudah semakin bertumbuh. Namun, pertumbuhan itu perlu terus didorong dan dimotivasi terus-menerus agar semakin meningkat lagi.
"Penerbitan buku tidak bisa dilepaskan dengan budaya baca. Kalau pertumbuhan dunia penerbitan semakin bagus, budaya baca akan semakin bagus pula," tandas Albiner.
Perwakilan para penulis, AA Sagung Mas Ruscitadewi menyatakan terima kasih atas prakarsa Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali ini. Dia berharap penghargaan ini akan bisa dilajutkan lagi pada tahun-tahun mendatang.
Salah seorang juri sekaligus penggagas penghargaan Widya Pataka, Gde Aryantha Soethama menyatakan selama ini banyak buku-buku Bali ditulis oleh orang luar Bali, bahkan orang asing. Para penulis dan peneliti Bali pun sering berbangga ria mengutip buku-buku yang ditulis orang luar itu. Padahal, buku-buku yang ditulis orang asing itu seringkali bias karena ditulis dari sudut pandang luar.
"Bukan berarti saya anti dengan penulis dari luar, tetapi alangkah baiknya jika buku-buku itu ditulis orang Bali. Alangkah baiknya jika orang-orang Bali sendiri menulis tentang tanah kelahirannya dengan cita rasa Bali," kata peraih penghargaan Khatulistiwa Award ini. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

balisaja.com Desain Templateism.com Hak Cipta © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.